Banjar Bhuana Shanti, Nyepi di Tengah Pandemik Tetap Sakral Meski Tanpa Ogoh-Ogoh

Redaksi

Sabtu, 13 Maret 2021 - 17:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Warga Banjar Bhuana Shanti, Labuhan Dalam, menggelar Upakara Mecaru, persembahan korban suci kepada Buta Kala, sebelum melakukan Tapa Brata Penyepian, Sabtu (13/3). Foto: Netizenku.com

Warga Banjar Bhuana Shanti, Labuhan Dalam, menggelar Upakara Mecaru, persembahan korban suci kepada Buta Kala, sebelum melakukan Tapa Brata Penyepian, Sabtu (13/3). Foto: Netizenku.com

Bandarlampung (Netizenku.com): Pandemi Covid-19 tak menghilangkan kesakralan upacara adat umat Hindu Bali Banjar Buana Santhi, Labuhan Dalam Kota Bandarlampung, dalam menjalankan rangkaian upakara (upacara) adat menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru 1943 Caka yang jatuh pada Minggu (14/3).

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat dan Provinsi Lampung mengimbau umat Hindu Bali agar Hari Raya Nyepi 1943 Caka dirayakan dengan menerapkan Protokol Kesehatan Covid-19.

Ada 4 banjar (organisasi kemasyarakatan terkecil dalam masyarakat adat Bali) di wilayah Kota Bandarlampung yang dihuni umat Hindu Bali.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Banjar Bhuana Shanti meliputi Kedaton, Rajabasa, Way Halim dengan jumlah warga lebih kurang 252 kepala keluarga (KK) merupakan banjar dengan masyarakat Bali terbesar di Kota Bandarlampung sehingga mendapatkan julukan Kampung Bali.

\"Banjar

Sementara tiga banjar lainnya yakni Banjar Satria mencakup wilayah Panjang, Teluk Betung, Garuntang memiliki warga 150 KK, Banjar Tengah mencakup wilayah Tanjungkarang Pusat, Pahoman, Sukabumi , Kemiling dengan 100 KK, dan Banjar Satya Dharma wilayah Sukabumi dan sekitarnya dengan jumlah warga 60 KK.

Sekretaris Banjar Bhuana Shanti, I Wayan Aryudi, mengatakan umat Hindu Bali sejak tiga hari terakhir telah melakukan rangkaian upacara adat menyambut Hari Raya Nyepi 1943 Caka seperti Upakara Melasti dan Upakara Mecaru.

Upakara Melasti, jelas Wayan, adalah membersihkan semua perangkat yang ada di pura sembahyangan seperti pratima.

Baca Juga  HUT ke-344 Kota Bandar Lampung, Pemuda Panca Marga Raih Penghargaan di Momen Menuju Indonesia Emas

\”Biasanya dilaksanakan di laut namun karena anjuran dari PHDI Provinsi maupun Pusat, kegiatan Melasti dilaksanakan di pura masing-masing karena kondisi pandemik,\” kata Wayan saat ditemui Netizenku pada Sabtu (13/3) pagi di Pura Banjar Bhuana Shanti.

Upakara Mecaru, Korban Suci Buta Kala

Saat ditemui, Wayan bersama puluhan warga Banjar Bhuana Shanti sedang bergotong royong mempersiapkan Upakara Mecaru.

Sepanjang persiapan Mecaru, muda-mudi banjar mengiringi kegiatan dengan menabuh gamelan Bali yang tersedia di balai banjar. Mereka tergabung dalam Sendratari Sekar Wawai yang sudah malang melintang dalam berbagai lomba.

\”Mecaru merupakan upacara adat memberikan korban suci kepada Buta Kala atau Buta Yadnya supaya mereka tidak mengganggu kegiatan kita nanti di perayaan Nyepi,\” ujar Wayan.

\"Banjar

Korban suci berupa daging ayam, telur, bunga dan jajanan pasar disusun sedemikian rupa dalam wadah yang terbuat dari anyaman pandan dan daun kelapa atau janur.

Korban suci disembahkan diiringi dengan nyanyian puja atau doa (Mekidung) yang dipimpin seorang Mangku disertai aroma harum dupa yang dibakar.

Baca Juga  Konvoi 30 Jeep PPM Jadi Magnet Festival Budaya HUT ke-344 Kota Bandar Lampung

Upakara Mecaru dimulai tepat pukul 12.00 Wib siang dan diikuti sebagian kecil warga Bhuana Shanti karena harus menerapkan protokol kesehatan menjaga jarak.

Perayaan Nyepi di Kota Bandarlampung yang biasanya dipusatkan di Banjar Bhuana Shanti, kali ini, karena kondisi pandemik tiga banjar lainnya tidak bergabung dan hanya melaksanakan di pura banjar masing-masing.

Wayan menjelaskan, ada satu rangkaian upacara lagi yang harusnya dilaksanakan sebelum malam Tahun Baru 1943 Caka dimulai tepat pukul 00.00 Wib.

\”Pengerupukan, dimana kita membuat ogoh-ogoh yang melambangkan Buta Kala untuk diarak kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar. Tapi karena pandemik tidak diperbolehkan,\” kata dia.

\"Banjar

Wakil Ketua Bidang Ekonomi PHDI Provinsi Lampung ini mengatakan umat Hindu Bali mulai melaksanakan Catur Brata Penyepian sejak Sabtu (13/3) malam pukul 00.00 Wib hingga Minggu (14/3) malam pukul 00.00 Wib.

\”Jadi pas 24 jam,\” tegas Wayan.

Umat Hindu Bali merayakan Tahun Baru 1943 Caka dengan melakoni Catur Brata Penyepian.

\”Yang pertama amati geni artinya tidak boleh menyalakan lampu simbol menahan nafsu. Kemudian amati karya tidak boleh melakukan pekerjaan tapi untuk kerohanian boleh seperti membaca kitab suci,\” jelas Wayan.

Baca Juga  Bandar Lampung Color Run 2026 Targetkan 2.000 Peserta

Selanjutnya amati lelanguan tidak boleh melakukan hiburan-hiburan dan yang keempat amati lelungan tidak boleh berpergian.

\”Artinya kita berdiam diri menyepi di rumah masing-masing,\” kata dia.

Wayan mengaku pandemi Covid-19 membuat sebagian warga merasakan ada hal yang kurang dalam perayaan Nyepi tahun ini karena pembatasan kegiatan masyarakat. Namun perayaan Nyepi di Banjar Bhuana Shanti dan banjar lainnya meski tanpa Melasti dan Ogoh-Ogoh dipastikan tidak mengurangi nilai spiritualitas yang terkandung di dalamnya.

\”Dari segi upacaranya ada yang kurang tapi karena kita memaklumi kondisi seperti ini, maknanya tidak berkurang. Tetap tidak mengurangi kesakralan upacara itu sendiri, mungkin hanya dibatasi saja,\” ujar dia.

Wayan mengimbau agar umat Hindu Bali di Kota Bandarlampung melaksanakan Nyepi dengan tertib sehingga tidak mengganggu masyarakat lain.

\”Dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian, selain petugas keamanan adat Pecalang, kami juga dibantu Bankom umat beragama lain. Biasa seperti itu, toleransi umat beragama lah sesuai dengan tema perayaan Nyepi tahun ini, kolaborasi dalam harmoni menuju Indonesia maju,\” pungkas Wayan. (Josua)

Berita Terkait

80 KK di Way Laga Terima Bantuan Air Bersih
Eva Dorong Pelestarian Kuliner Tradisional Lampung
Pemkot Bandar Lampung Rotasi Pejabat, Dua Camat Dilantik
Pemkot Bandar Lampung Siapkan Rp2,5 Miliar untuk Olok Gading
Eva Dwiana Siapkan Strategi Hadapi Banjir
Bandar Lampung Expo 2026 Jadi Inspirasi Peluang Usaha
Kebakaran Lahap Bengkel dan Toko Elektronik di Kedaton
Pemkot Bandar Lampung Targetkan PAD 2027 Rp1,164 Triliun

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 10:57 WIB

Sahdana Desak Audit Menyeluruh Bank Syariah Way Kanan, Minta Dirut hingga Jajaran Diperiksa

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:27 WIB

Wagub Lampung Buka KPDK Pramuka Lampung 2026

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:23 WIB

Pemprov Lampung Perkuat Vokasi untuk Kerja Global

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:21 WIB

Jihan Pantau Implementasi Lampung-In 2.0

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:18 WIB

Wulan Mirza Lantik Pengurus PMI Lampung Selatan 2026-2031, Tekankan Respons Bencana Maksimal Enam Jam

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:12 WIB

Pemprov Lampung Ajukan Perubahan KUA-PPAS 2026 dan Rancangan APBD 2027

Jumat, 31 Juli 2026 - 20:10 WIB

Gubernur Lampung Dukung Lampung Financial Festival 2026

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:16 WIB

Kostiana, Ingatkan Bapenda Optimalkan Seluruh Potensi PAD

Berita Terbaru

Lampung

Wagub Lampung Buka KPDK Pramuka Lampung 2026

Jumat, 31 Jul 2026 - 20:27 WIB

Lampung

Pemprov Lampung Perkuat Vokasi untuk Kerja Global

Jumat, 31 Jul 2026 - 20:23 WIB

Lampung

Jihan Pantau Implementasi Lampung-In 2.0

Jumat, 31 Jul 2026 - 20:21 WIB