Anggota DPRD Lampung sekaligus Dewan Pembina Lamban Sastra, Yozi Rizal, menyoroti lemahnya perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung terhadap perkembangan dunia sastra di daerah.
Lampung (Netizenku.com): Hal itu disampaikan Yozi saat memberikan sambutan dalam kegiatan Bengkel Sastra 2026 yang digelar Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS di Villa Dangau Kedaung, Kemiling, Bandar Lampung, Selasa (25/8/2026).
Yozi mengatakan, perhatian pemerintah terhadap dunia sastra perlu diperkuat karena memiliki potensi besar, terutama dalam mengembangkan bakat dan minat generasi muda, khususnya pelajar dan mahasiswa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sebagai warga pecinta sastra, kita sangat prihatin dengan lemahnya perhatian Pemprov Lampung selama ini. Padahal potensi dunia sastra sangat besar, khususnya dalam mengembangkan bakat dan minat pelajar dan mahasiswa,” kata Yozi.
Menurut dia, keprihatinan tersebut tidak hanya disampaikan melalui kritik, tetapi akan diperjuangkan melalui lembaga DPRD Lampung agar perkembangan sastra mendapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah daerah.
Yozi juga menjelaskan, Lamban Sastra merupakan komunitas pegiat sastra yang didirikan oleh Isbedy Stiawan ZS, penyair Lampung yang dikenal dengan julukan “Paus Sastra”.
Kegiatan Bengkel Sastra 2026 mendapat dukungan bantuan pemerintah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kegiatan tersebut diikuti 20 peserta dari kalangan pelajar SMA, mahasiswa, dan pegiat sastra dari berbagai daerah di Lampung.
Ke-20 peserta tersebut terpilih melalui proses kurasi dari 39 orang yang mengirimkan karya.
Ketua Pelaksana Bengkel Sastra 2026, Fitri Angraini Rofar, mengatakan kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni penyair asal Jakarta Nanang R Supriyatin, penyair sekaligus pegiat sastra Lampung Ari Pahala Hutabarat, Isbedy Stiawan ZS, serta akademisi Universitas Lampung, Yinda Dwi Gustiara.
Fitri menjelaskan, proses kurasi dilakukan oleh Djuhardi Basri, penyair sekaligus dosen UMKO, Nanang R Supriyatin, Yinda Dwi Gustiara, dan Isbedy Stiawan ZS.
“Para kurator hanya membaca karya, sebab nama penulisnya dihapus. Hal ini untuk menjaga netralitas dalam penilaian,” ujar Fitri.
Ia menambahkan, hasil Bengkel Sastra 2026 akan diterbitkan dalam bentuk buku puisi dwibahasa Indonesia-Lampung. Buku tersebut direncanakan diluncurkan pada 25 atau 26 September 2026.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Lampung, Muhammad Muis, menegaskan kegiatan seperti Bengkel Sastra penting untuk terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya mencetak dan meregenerasi sastrawan di Lampung.
“Kita harapkan dari kegiatan ini terjadi regenerasi sastrawan, khususnya penyair di Lampung,” kata Muis.
Menurut Muis, Lampung membutuhkan generasi penerus bagi para penyair senior yang selama ini telah berkontribusi dalam perkembangan sastra daerah.
“Lampung harus ada penerus Pak Isbedy, Ari Pahala, Nanang, dan penyair senior lain di daerah ini,” ujarnya.
Dalam pembukaan tersebut turut hadir sejumlah pegiat sastra dan perwakilan komunitas, di antaranya Himawan Ali Imron, Fajrun Najah Ahmad, Erwin Wibowo, Hasnawati, Alexander GB dan Yulizar Lubay dari Komunitas Berkat Yakin.
Hadir pula guru pembimbing dari SMAN 10 Bandar Lampung, SMAN 1 Gunung Agung, Tulangbawang Barat, SMA Muhammadiyah Ahmad Dahlan Metro, serta SMAN 2 Bandar Lampung. (*)








