Bandarlampung (Netizenku.com): Masyarakat sekitar Pulau Mahitam di Desa Batu Menyan, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran menyambut baik dibukanya kembali Pulau Mahitam untuk aktifitas pariwisata.
Pulau Mahitam kembali menerima kunjungan wisatawan sejak Sabtu, 29 Mei 2021, setelah ditutup sejak Januari 2021 lalu.
Salah satu warga setempat, Supiya (26), yang membuka usaha warung mengaku bisa meraup laba bersih hingga Rp2 juta setiap bulannya dengan berdagang makanan dan minuman ringan, terutama es dugan atau kelapa muda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ya relatif sih tergantung jumlah pengunjung cuma kan di sini potensi,” ujar wanita muda asal Dusun Seribu, Desa Gebang ini.
Supiya menjelaskan potensi ekonomi pariwisata yang dimiliki Pulau Mahitam di antaranya alam yang eksotis masih terjaga keasliannya dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki melewati pasir putih yang timbul saat air laut surut.
Piya sapaan akrabnya, menjadi pelaku usaha wisata bersama suaminya Rahmat yang asli putera daerah setempat.
Rahmat menjadi nelayan pengangkut penumpang yang akan menyeberang dari Desa Ketapang ke Pulau Mahitam.
Akses ke Pulau Mahitam memiliki banyak jalur lewat perairan. Bahkan bisa ditempuh dengan kapal dari Gudang Lelang di Kota Bandarlampung.
Supiya menuturkan Pulau Mahitam yang masuk Kawasan Strategis Nasional dalam Peta Latihan Militer mulai dikelola menjadi objek wisata sejak Maret 2020. Tepat pada saat pandemi Covid-19 mulai mewabah.
Sebulan kemudian, April 2020, pembatasan pengunjung diberlakukan untuk Protokol Kesehatan Covid-19 dan berdampak pada perekonomian.
“Ditambah lagi dengan penutupan sejak Januari 2021, praktis tidak ada penghasilan. Kita kurang paham soal perizinan, enggak pernah tahu (Pulau Mahitam) ini zona latihan tempur, tapi ketika hari ini disuruh buka (warung) ya kita buka,” ujar dia.
Pihak pengelola, lanjut Supiya, menggandeng warga setempat untuk bersama-sama mengelola Pulau Mahitam lewat pemuda karang taruna yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
“Ada dua Pokdarwis di sini (Pulau Mahitam) Babe Gaul dan Tunas Muda. Di Desa Gebang ada Ketapang Lestari yang concern akan hutan mangrove,” kata dia.
Masyarakat setempat, lanjut dia, semakin sadar akan pentingnya hutan mangrove sehingga penanaman pohon bakau tak hanya sebatas di Pantai Mandapa tetapi semakin memperluas cakupan hutan mangrove.
“Pantai Mandapa enggak ada pasir putihnya tapi mangrove semua jadi bagus juga,” ujar dia.
Pengelola Pulau Mahitam, Doddie Irawan, saat ditemui mengatakan pihaknya mengusung konsep wisata bagi kelas menengah ke bawah sehingga terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Konsep kita ekonomi kerakyatan, pemberdayaan masyarakat dengan menghimpun pedagang warung, warga nelayan. Sebagian besar masyarakat sini yang bermata pencaharian sebagai nelayan menyediakan perahu angkutan,” kata dia. (Josua)
Baca Juga: Destinasi Wisata Pulau Mahitam Pesawaran Kembali Dibuka








