BERBAGI

Bandarlampung (Netizenku.com): Dampak dari penerapan sosial distancing membuat pusat perbelanjaan atau mal di Kota Bandarlampung lumpuh.

Hal itu juga mengakibatkan anjloknya omzet penjualan dan membuat sejumlah karyawan terancam dikurangi, atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sementara.

Seperti Mal Central Plaza Bandarlampung, misalnya, menjelang bulan Ramadhan biasanya manajemen melakukan pertambahan karyawan kontrak atau tambahan. Namun di tahun ini mal tersebut justru tengah menggodok rencana pengurangan karyawan, apa bila pandemi wabah virus ini tak kunjung berakhir.

“Ya kalau ini (wabah) nggak selesai-selesai. Jangan sampai bulan depan deh, karena kan kita-kita yang baru ini terancam diberhentikan sementara, sebab omzet anjlok. Bayar karyawan gimana? Orang ini aja sudah hitungan rugi,” ujar salah seorang karyawan yang enggan disebutkan namanya, Rabu (25/3).

Padahal, manajemen telah menyiasati hal tersebut agar mal tetap ramai seperti biasa. Manajemen telah menyulap mal menjadi lebih higenis. Selain itu penerapan jaga jarak pun diperketat.

Di setiap gerai, misalnya, terdapat sebuah garis merah di lantai untuk menjadi pertanda jaga jarak satu meter bagi pengunjung dan karyawan. Garis-garis tersebut juga tersedia di berbagai tempat pelayanan lainnya seperti di kasir.

“Kita juga diwajibkan untuk pakai masker dan sarung tangan. Kemudian harus pakai hand sanitizer yang disediakan manajemen,” jelas karyawan tersebut, Rabu (25/3).

Namun hal itu tampaknya sia-sia. Pasalnya, pantauan Netizenku.com pada Rabu (25/3) pengunjung mal sangat minim bahkan dapat dihitung dengan jari. Bioskop yang biasanya ramai disambangi pengunjung kini bahkan telah tutup.

Tak heran, pihak manajemen pun akhirnya merombak sistem karyawan dan jam operasional. Jam operasional yang biasanya buka sekitar pukul 09.00 WIB kini menjadi pukul 11.00 WIB. Kemudian tutup lebih awal pada pukul 20.00 WIB, sebelumnya mal tutup sekitar pukul 22.00 WIB.

Diungkapkannya, jam kerja karyawan ikut dibatasi. Sebelumnya dalam satu hari terbagi dua sift kini hanya satu sift saja.

“Jadi sehari kerja, sehari libur. Terus juga ketika masuk kerjanya bisanya kan langsung tuh, nah ini kita di bagi dua kloter supaya nggak numpuk, jadi kalau misalkan ada yang sakit ketika dites suhunya langsung dipulangkan satu kloter itu,” kata dia.

Menurutnya, apa bila terdapat satu pasien yang dinyatakan suspect terjangkit virus maka mal tersebut akan menerapkan lockdown. “Kata atasan sih kemarin itu komit kalau satu karyawan misalkan kena itu langsung lockdown. Mudah-mudahan sih enggak, karena kan kesiagaannya juga menurut saya bagus sih,” pungkasnya.

Hanya saja saat dikonfirmasi terkait pengurangan karyawan tersebut, pihak manajemen yang memiliki kewenangan penuh belum dapat dijumpai. “Lagi nggak bisa,” ujar salah seorang staff. (Adi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here