oleh

Macbeth Pentas Teater yang tak Biasa

Tulangbawang Barat (Netizenku.com): Seni Teater di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) terus mengalami perkembangan kearah yang lebih baik.

Tiga tahun silam, teater ini hanya terbatas pada drama yang dimainkan di kelas, kini mulai pentas di event-event ternama di kabupaten berjuluk Ragem Sai Mangi Wawai.

Fasilitator Seni Teater di Tubaba Semi Ikra Anggara mengatakan, pengetahuan terhadap seni teater di Tubaba tidak berkembang jauh. Sulit sekali pihaknya menemukan satu proses kreatif yang serius, menilai teater sebagai satu ilmu yang lengkap dengan tetek bengeknya; melatih seluruh piranti tubuh untuk kemampuan keaktoran, mempelajari kerja penyutradaraan, membuat naskah drama yang juga bergulat dengan seabrek  pemikiran, sibuk dengan kerja-kerja teknis artistik dan tata cahaya dan tentu saja pengelolaan management.

\”Tiga tahun silam teater terbatas pada drama yang dimainkan di kelas, sebagai pengecualian para pemeran Teater Cermin memiliki pengalaman mengikuti fertival di ibukota, itupun dibayangi inkonsistensi,\” terangnya kepada netizenku.com, Kamis pagi (8/11).

Menurut Semi di Tubaba, sebelumnya teater hanyalah sisipan pelajaran bahasa di sekolah, itu pun sangat bergantung pada kemampuan masing-masing pengajar di sekolah. Padahal, teater adalah seni paling kompleks karena unsur-unsur pendukungnya teramat lengkap. Dasar-dasar ilmu teater biasanya dipelajari (secara konsisten) selama empat tahun dengan waktu standar latihan 15 jam per pekan, di dalamnya sudah termasuk olah tubuh, latihan pikiran dan latihan perasaan.

\”Tanpa mengikuti standar tersebut seseorang akan sulit memainkan perannya di atas panggung. Dengan unsur-unsur pendukung teramat lengkap tersebut dan persyaratan yang teramat ketat maka teater bisa dipilih sebagai metode bagi pengembangan sumber daya manusia (SDM), salah satu media paling relevan bagi pendidikan karakter,\” terangnya.

Dalam mengawali pendalaman seni teater di Tubaba, pihaknya tidak langsung memaksakan standarirasi dalam seni teater ke dalam kebiasaan masayarakat Tubaba, prosesnya begitu perlahan, ada negosiasi, pada mulanya teater haruslah bikin happy.

Baca Juga  Walikota Metro Serahkan 18 SK Pengangkatan PPPK

\”Maka projek pertama adalah memainkan sebuah teater hibrida “Perburuan Cut Bacut yang tidak pernah Berakhir” teater yang gagasan utamanya meminjam foklore tentang monster pemakan bangkai, situasi adegan dan tema-temanya terberai dari isu-isu aktual saat teater itu dipertunjukan, cara pembawaannya menitikberatkan bagaimana teater menjadi hiburan bagi publik dengan kode-kode pertunjukan yang komunikatif, pementasan yang dibawakan di ruang publik Tugu Ratu Nago Bersanding (Agustus 2016) dan area parkir Islamic Center (Oktober 2016) berhasil menarik ratusan penonton sekaligus berhasil membuat para pelakunya ketagihan berteater,\” ulasnya.

Berikutnya lanjut dia, adalah fase yang lebih menantang, pihaknya membuat sebuah festival teater, dalam program ini sekira 45 anggota Teater Tubaba berfungsi ganda: sebagai panitia dan sekaligus sebagai penampil. Secara garis besar modus penciptaan teaternya pun berbeda, dua pementasan dengan pendekatan realisme dan satu teater dengan pendekatan site specifik.

\”Jalan ini dipilih agar sedari awal bagaimana anak-anak mengetahui kekayaan spektrum seni teater, sekaligus melihat perbedaan-perbedaan kreatif di dalamnya dan diharapkan pada masa depan menghindari sifat-sifat esensialis dan merasa paling benar senidiri, dari situlah gagasan perbedaan pendekatan diciptakan,\” kata dia.

Semi memaparkan, dengan adanya perkembangan pengetahuan dan kemampuan para pelaku seni teater yang mayoritas merupakan pelajar, pihaknya menggarap “Sayang Ada Orang Lain” karya Utuy Tatang Sontani dan “Ayahku Pulang” karya Usmar Ismail, dari dua penciptaan tersebut peserta didik dilatih menggunakan pikiran mereka dalam mendalami aspek-aspek psikologis pemeranan. Bukan hal mudah, ditambah lagi berpetualang pada aspek sejarah saat teks dituliskan. Sedangkan pada site specifik theatre “Anak-anak dari Pohon Karet” peserta didik diajak menyelami realitas sosial yang paling dekat dari dirinya: keluarga dan sekolah.

Baca Juga  Demokrat Tubaba Solid Dukung AHY Ketum Sah DPP

\”Teater kemudian menjadi area bermain antara keriangan anak-anak, kesedihan, pertanyaan terhadap realitas sosial dan mementomory yang personal,\” paparnya.

Menurutnya, setelah melewati beberapa tahap yang terukur dan menantang tersebut, perlu kiranya peserta didik mendapatkan batu uji baru, batu uji itu adalah  \”Macbeth\” karya William Shakespeare terjemahan Trisno Sumardjo. Pilihan ini tentu memiliki risikonya sendiri. Peserta kelas Teater yang rata-rata berusia remaja cukup berat memasuki tema penggulingan kekuasaan yang ditulis pada abad ke-16 ini, lakon yang teramat pejal penuh puitika dan metafor, aspek kebudayaan yang terbentang jauh, juga terjemahan Trisno Sumardjo yang tidak lepas dari konteks bahasa saat lakon diterjemahkan. Tentu semuanya adalah tantangan.

\”Sedari awal peserta didik dibekali dengan metode keaktoran Stanislavskiyan, mereka dibiasakan mulai bekerja dengan pikiran, menganalisis tema, plot, karakter, relasi antar karakter, bahasa dan subtext. Materi yoga dan olah tubuh yang materi dasarnya diambil dari pencak silat menjadi menu utama dalam setiap pelatihan. Kemudian menjadi modal penting dalam proses penggarapan, mereka yang terpilih casting dalam garapan ini telah memiliki modal penting hasil dari proses panjang sebelumnya, baik saat mementaskan “Perburuan Cutbacut yang Tak Pernah Selesai” maupun saat festival yang memainkan tiga pentas teater,\” terang Semi.

Berharap agar Pentas Macbeth yang datang dari \”sono\” bisa diterima penonton \”di sini\” pihaknya menggunakan pendekatan Intertekstualitas, dan Bahasa Indonesia versi Trisno Soemardjo disesuaikan dengan bahasa ibu masing-masing aktor. Sementara, srategi keruangan dalam pementasan ini menggunakan ruang terbuka Kampung Budaya Uluan Nughik (Kampung Baduy) yang berada di jalan baru Mapolres Tubaba, belakang Rumdis bupati.

Baca Juga  Bayana Serahkan Buku Tabungan UGR JTTS Warga Tubaba

\”Ruang ini memiliki lanskap yang unik; sebuah lingkaran berbentuk mandala terlindungi lingkaran dan gundukan tanah setinggi dua atau tiga kali tubuh manusia, memiliki dua lorong yang bisa digunakan untuk jalan masuk dan jalan keluar. Tanah berundak di sekitarnya dan sebuah gazebo. Pola ruang tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tubuh-tubuh aktor, bagaiamana aktor dan seluruh pola pengadeganan berdialektika dengan arsitektr ruang tersebut,\” ungkapnya.

Semi menambahkan, Teater Tubaba dengan lakon \”Macbeth\” karya pujangga William Shakespeare (Inggris), sebuah teater dengan tema Kudeta berdarah yang dilakukan seorang prajurit terhadap raja ini akan ditampilkan pada 11 November 2018 sekitar pukul 19.30 Wib di pentaskan di Kampung Budaya Ulluan Nughik pada rangkaian kegiatan Festival Tubaba bertajuk \”Tubaba Multikultural; dari Aku menuju Kita\” Diikuti oleh sekira 300 peserta didik yang  meliputi pelatihan Seni Tari, Teater, Seni Rupa, Musik dan Sastra.

\”Gelaran Festival Tubaba ini akan dilaksanakan selama 3 hari sejak Sabtu 10 November sampai Selasa 13 November, diawali pembukaan pada pukul 7.30 Wib di halaman depan Masjid Baitussobur Islamik Center Tubaba ditampilkan musik kulintang, paduan suara Gema Tubaba yang akan membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam 3 stanza, tari sembah sigeh pengunten, tari bedana, tari nenemo dan musik gambus. Reog akan mengantar hadirin ke area venue Sesat Agung untuk menyaksikan action painting oleh Hanafi, gitar klasik Lampung yang dibawakan Forum Muli Mekhanai Panargan sampai akhirnya menyaksikan sekira 100 karya Seni Rupa di dalam Sesat Agung karya 30 perupa anak dan remaja Tubaba,\” pungkasnya. (Arie)

Komentar