Ladang Hijau Penarik Cuan, Saat Pertanian Organik Masuk Bursa Karbon

Tauriq Attala Gibran

Sabtu, 17 Januari 2026 - 14:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dunia kini menoleh pada para petani sebagai pahlawan penyelamat iklim lewat praktik Pertanian Karbon (Carbon Farming). Lahan kita bukan lagi dianggap sebagai penyumbang emisi, melainkan penyerap karbon masa depan yang menjanjikan.

(Netizenku.com): Pengelolaan berwawasan lingkungan kini mulai diperhitungkan secara serius dalam bursa karbon global. Peluang ini terbuka lebar karena lembaga internasional seperti Verra dan Gold Standard telah mengakui metodologi sektor pertanian.

Ada tiga teknik utama yang menjadi kunci dalam penilaian kredit karbon dunia. Pertama adalah pertanian regeneratif dengan teknik olah tanah minimum agar karbon tidak lepas ke udara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kedua, pengelolaan padi rendah metana melalui pengairan berselang agar sawah tidak selalu tergenang. Ketiga, penggunaan pupuk organik wajib ditingkatkan guna mengurangi ketergantungan pada pupuk nitrogen yang emisinya sangat tinggi.

Baca Juga  RSUDAM Siapkan Fertility Center, Perkuat Layanan Kesehatan Reproduksi

Tanah pertanian yang dirawat secara organik sejatinya adalah sebuah “bank karbon” yang luar biasa. Kapasitas tanah alami dalam menyerap karbon jauh lebih tinggi dibanding tanah yang rusak akibat bahan kimia.

Dalam pasar global, setiap satu ton karbon yang “dikunci” di dalam tanah bisa dikonversi menjadi satu unit kredit karbon. Unit inilah yang nantinya memiliki nilai jual tinggi bagi perusahaan-perusahaan besar di mancanegara.

Bagi petani di Lampung, sistem kebun campuran atau wana-tani adalah modal berharga yang sudah ada. Kebun kopi atau cokelat di bawah naungan pohon hutan merupakan bentuk nyata Nature Based Solution (NBS).

Baca Juga  Batin Wulan Dorong Percepatan Sertifikasi Halal bagi UMKM Lampung

Pohon-pohon pelindung di lahan petani akan dihitung sebagai penyerap emisi yang sangat diminati pembeli internasional. Skema agroforestri ini menempatkan petani Lampung sebagai pemain kunci di pasar karbon premium.

Kita bisa belajar dari keberhasilan proyek Katingan Mentaya di Kalimantan dalam menjaga lahan gambut. Mereka membuktikan bahwa menjaga ekosistem tetap basah dan tidak dibakar memiliki nilai ekonomi yang sangat fantastis.

Contoh lain adalah restorasi mangrove yang dipadukan dengan tambak silvofishery di wilayah pesisir. Masyarakat kini bisa meraih pendapatan dari hasil tambak sekaligus insentif dari upaya menjaga hutan bakau.

Petani Berkelompok Songsong Perdagangan Karbon

Inisiatif serupa juga mulai merambah ke sektor perkebunan kopi dan kakao melalui pertanian cerdas iklim. Beberapa koperasi tani kini mulai menanam pohon peneduh sebagai penyerap karbon yang sah untuk diklaim.

Baca Juga  Asap Pabrik Gula Bunga Mayang Dikeluhkan, Mikdar Desak DLH Periksa Emisi

Namun, tantangan besar seperti tingginya biaya verifikasi dan audit karbon masih membayangi petani kecil. Biaya pengukuran yang mahal membuat petani harus merapatkan barisan agar tidak berjuang sendirian.

Lahan petani yang sempit sangat sulit untuk masuk ke pasar internasional secara mandiri. Bergabung dalam kelompok tani atau koperasi adalah langkah wajib untuk melakukan pengumpulan atau agregasi lahan.

Dengan volume yang besar, barulah kredit karbon dari desa bisa menembus bursa internasional secara kompetitif. Inilah saatnya petani Lampung bersatu mengubah cara kelola lahan menjadi sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.(*)

Berita Terkait

Komisi V DPRD Lampung Dorong Direktur Baru RSUDAM Lanjutkan Program Pendahulu
Razia Kendaraan di Lampung Sasar Kelengkapan STNK dan Pajak
Pemkot Bandar Lampung Sosialisasikan Bahaya Liquid Vape ke Sekolah Mulai 21 Oktober
Gubernur Lampung Instruksikan Percepatan Penanganan Karhutla dan Penguatan Mitigasi
Jihan Nurlela Perkuat Penanganan Karhutla TNWK, 350 Personel Gabungan Dikerahkan
HUT ke-18 PIRA Lampung, Salurkan 100 Paket Sembako dan Tebar Benih Ikan di Pesawaran
Batin Wulan Promosikan Mocaf dan Ikan Cobia Lampung di Ajang Kuliner Internasional
Rezki Wirmandi: Di Balik Kesibukan Politik, Keluarga Tetap Jadi Rumah untuk Pulang

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 20:50 WIB

Polisi Gerebek Enam Lokasi di Margakaya Pringsewu, Dua Pria Diamankan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:12 WIB

Lantik Delapan Pejabat, Bupati Pringsewu Ingatkan Pentingnya Kerja Nyata

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:53 WIB

Bupati Riyanto Ajak Sekolah Cegah Perundungan dan Kekerasan terhadap Anak

Senin, 12 Oktober 2026 - 20:50 WIB

Pemkab Pringsewu Gelar Penetrasi Pasar untuk Kendalikan Inflasi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:52 WIB

6.149 SKCK Diterbitkan Polres Pringsewu hingga September 2026

Kamis, 8 Oktober 2026 - 20:49 WIB

Pemkab Pringsewu Gelar Gerakan Penetrasi Pasar untuk Kendalikan Harga dan Inflasi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 20:19 WIB

Bupati Pringsewu: Ormas Punya Peran Strategis dalam Pembangunan Daerah

Senin, 5 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Bupati Pringsewu Ajukan R-APBD 2027 Senilai Rp1,138 Triliun

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Pemkab Tubaba Siapkan Anggaran Pelaksanaan Putusan MA Terkait SDN Pagar Dewa

Senin, 19 Okt 2026 - 19:11 WIB