FGD AMSI, Guru Besar Unila Rekomendasi Literasi Digital di Sekolah

Agis Dwi Prakoso

Selasa, 28 Mei 2024 - 09:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Prof. Dr. Bujang Rahman saat menerima plakat dari Ketua AMSI Wilayah Lampung, Hendri Std.

Prof. Dr. Bujang Rahman saat menerima plakat dari Ketua AMSI Wilayah Lampung, Hendri Std.

Bandarlampung (Netizenku.com): Tidak bisa ditampik pandemi Covid-19 lalu bisa dibilang sebagai sengsara membawa kemajuan. Terutama di bidang digital.

Pernyataan tersebut disampaikan Guru Besar FKIP Unila Prof. Dr. Bujang Rahman, M.Si dalam Forum Group Discussion (FGD) bertema Penguatan Literasi Digital Menjawab Perda Nomor 17 Tahun 2019 tentang Peningkatan Budaya Literasi.

Kegiatan yang diselenggarakan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Lampung di gedung perpustakaan modern Lampung ini, diikuti oleh ketua-ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan Satgas GLS (Gerakan Literasi Sekolah) se-Provinsi Lampung serta kepala sekolah dari seluruh SMAN/SMKN di Bandarlampung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kalau tidak ada Covid mana ada sekolah online. Sekarang semua malah sudah serba teknologi digital, pakai internet. Orang Indonesia itu kecenderungannya memang serupa itu. Apa pun kalau dipaksa, bisa. Saya curiga, peningkatan budaya literasi di sekolah di Lampung juga mesti dipaksa dulu,” ungkap Bujang, Senin (27 Mei 2024).

Dirinya juga menguraikan berbagai jenis literasi. Seperti literasi sosial budaya. Menurutnya, orang yang punya budaya literasi sosial akan memiliki empati. Dia lantas menyinggung salah satu tugas guru bukan hanya mengajar, tetapi mendidik. Mendidik itu menanamkan nilai, menanamkan rasa empati. How to feel, bagaimana merasakan apa yang dirasakan orang lain.

Baca Juga  Pemprov Lampung Dukung Percepatan Koperasi Merah Putih

“Karena mengajar dan mendidik itu dua hal yang berbeda. Bila masih ada guru yang baru bisa sebatas mengajar, karena belum mampu menanamkan nilai-nilai seperti yang dimaksud dari pengertian mendidik, maka guru itu tidak pantas mendapat tunjangan pendidikan,” tegasnya.

Bujang mengajak peserta FGD yang notabene pendidik untuk kembali menelaah tunjangan sertifikasi yang diberikan kepada pendidik profesional, bukan pengajar profesional. Lalu dia melanjutkan yang dimaksud dengan literasi ekonomi. “Penjelasan sederhananya bisa membedakan mana yang prioritas dan bukan prioritas. Itu saja. Kalau para pendidik bisa memahami literasi ekonomi ini tentu bisa dengan mudah memahami apakah pembentukan budaya literasi itu penting atau tidak bagi anak didik,” jelasnya.

Berikutnya, sambung Bujang, literasi teknologi. Puncak dari literasi teknologi adalah literasi digital. “Apa yang dihasilkan dari pemahaman literasi teknologi ini? salah satunya menghasilkan individu yang mampu berpikir kritis. Sebab pada era literasi digital seperti sekarang di dalam informasi yang beredar ada ilmu pengetahuan tetapi juga ada hoaks. Maka dibutuhkan kemampuan kritis untuk memilahnya. Sebaliknya bila tidak punya kemampuan itu, siap-siap saja menjadi korban literasi digital,” terangnya.

Baca Juga  I Made Suarjaya Minta Kisruh Pimpinan Lamteng Diselesaikan

Dirinya menegaskan, literasi teknologi ini bagian dari literasi digital, seperti program yang diusulkan AMSI Lampung. “Sehingga mau tidak mau, suka tidak suka, sekolah harus melaksanakan literasi digital. Ini sejalan dengan kriteria atau ciri-ciri manusia cakap pada abad 21. Jangan hidup di abad ini kalau tidak memahami dan menguasai literasi digital. Karena pasti akan menderita. Ketinggalan,” kata Bujang.

Jadi, tambahnya, inti dari literasi digital adalah kemampuan berpikir kritis dan sensitif. Dirinya juga merujuk pada data dimana pada 2022 lalu tingkat literasi digital di Lampung masih sangat rendah. Berada di bawah Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu bahkan Papua. Dia mengkritisi apakah para pemangku pendidikan di Lampung masih mau berpangku tangan menyikapi hal tersebut?

Terkait hal itu Bujang merekomendasikan solusi pada gerakan literasi sekolah yang berorientasi pada literasi digital. Yakni, pertama, semua pemangku pendidikan memahami secara komprehensif budaya literasi, khususnya literasi digital. Sekolah punya mitra namanya komite sekolah. Idealnya sekolah dan komite sekolah berembuk untuk mencari solusi peningkatan budaya literasi di sekolah, dalam hal ini literasi digital.

Baca Juga  Gubernur Lampung Apresiasi Polda Lampung Ungkap Kasus TPPO Anak di Surabaya

Kedua, semua sekolah wajib membentuk tim literasi. Tugasnya merencanakan dan mempercepat implementasi literasi digital di sekolah. Upaya ini sebagai jawaban dari pelaksanaan Perda Nomor 17 Tahun 2019 tentang Peningkatan Budaya Literasi. “Untuk menjawab perda tersebut caranya dengan membentuk tim literasi sekolah. Kuncinya di situ,” tegas Bujang.

Ketiga, sekolah melalui tim literasi sekolah, membuat dan melaksanakan program literasi digital.

Keempat, penguatan budaya literasi digital. “Cara paling efektif membudayakan literasi digital adalah dengan membikin malu bagi siapa yang tidak menerapkannya. Kalau masih ada warga sekolah yang tidak akrab dengan website sekolahnya dibikin malu. Biar pada akhirnya semua terlibat dalam literasi digital,” sarannya.

Dan kelima, budayakan membaca di kelas. Agar proses ini tidak menjemukan, disediakan bahan bacaan yang menarik. Bisa melalui konten website sekolah yang materinya disesuaikan.

“Misal, ketika memperingati Hari Bumi, sebelumnya tim literasi sekolah menyusun materi tentang Hari Bumi baru kemudian diposting ke website sekolah. Lalu pada saat Hari Anti Korupsi, buatkan juga materi yang relevan. Jadi pembiasaan melek literasi digital yang dilakukan sekolah berguna juga bagi pengembangan wawasan pelajar,” pungkas Bujang. (*)

Berita Terkait

Akademisi Unila Soroti Dampak Kenaikan Tarif Tol BTB
Gubernur Lampung Dorong POC dan Hilirisasi Demi Tingkatkan Kesejahteraan Petani
Mirzani, Petani Harus Nikmati Hasil, Bukan Hanya Menanggung Risiko
Imelda Minta Publik Bijak Sikapi Informasi Gunung Anak Krakatau
Elly Wahyuni Minta Disdik Tegas terhadap Sekolah yang Paksa Siswa Beli Seragam
Wahrul Fauzi Siap Maju Pimpin Karang Taruna Lampung, Usung Pemberdayaan Pemuda dan 1.000 UMKM
Komisi IV DPRD Lampung Minta Tarif Tol BTB Dievaluasi
DPRD Lampung Panggil Pengelola Bahas Kenaikan Tarif Tol

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 20:54 WIB

PWI Lampung Selatan Kirim 14 Atlet Ikuti Seleksi Porwanas 2027

Jumat, 3 Juli 2026 - 14:05 WIB

Tarif Tol Lampung Dinilai Belum Berpihak ke Warga

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:51 WIB

PB HMI Soroti Kenaikan Tarif Tol Bakter, Dinilai Bebani Ekonomi Masyarakat

Rabu, 1 Juli 2026 - 11:51 WIB

Banggar DPRD Lamsel Lanjutkan Bahas Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:12 WIB

LDK DEMA STAI Yasba Bekali Mahasiswa Keterampilan Jurnalistik

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:48 WIB

Zulhas Apresiasi IDS Sumatra 2026 Digelar Tanpa APBD

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:45 WIB

Petugas Kebersihan Tetap Siaga di Tengah Ramainya IDS Sumatra 2026

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:43 WIB

IDS Sumatra 2026 Dongkrak Pendapatan Pedagang Kecil

Berita Terbaru

E-Paper

Lentera Swara Lampung | 163 | Rabu, 8 Juli 2026

Rabu, 8 Jul 2026 - 01:36 WIB

Lampung

Akademisi Unila Soroti Dampak Kenaikan Tarif Tol BTB

Selasa, 7 Jul 2026 - 18:07 WIB