Pengkhianat yang Berkhianat

Hendri Setiadi

Minggu, 8 Desember 2024 - 11:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Malam berisik. Di sebuah sudut resto kami melingkari meja. Ketika para jurnalis berkumpul ceritanya mudah diterka. Senggol sana-sini. Di antara kami turut nimbrung seorang tokoh pemuda di Lampung. Kepadanya-lah obrolan berpusar. 

ADA banyak tema perbincangan yang bergulir. Mulai dari pergunjingan seputar Gus Miftah yang mundur (atau dipaksa mundur) sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Berawal dari kata goblok yang meluncur dari mulutnya dan menyasar penjaja es teh manis. Videonya viral.

Dalam sekejap netizen Indonesia yang dikenal beringas seantero jagat, malah balik menghujat Miftah. Penceramah ini dianggap “bermulut kotor”. Tak kurang Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, turut menyoroti. Bahkan akun official Manchester United, salah satu klub sepakbola ternama di Inggris dan memiliki banyak penggemar fanatik di Indonesia, ikut mengunggah statemen yang disinyalir terkait kasus Miftah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam postingannya akun klub sepakbola berjuluk The Red Devils atau Setan Merah tersebut menulis: “Menjunjung es teh maupun menjunjung trofi, keduanya sama-sama mulia”. Jlebbb…!

Seorang jurnalis menukas, kalau problemnya tersebab lontaran kasar, ada banyak video lama yang belakangan muncul dan memperlihatkan betapa akrabnya Miftah dengan selorohan semacam itu. Lantas kenapa baru sekarang menjadi persoalan besar dan tak termaafkan?

Baca Juga  Bumi Lebu Bercerita, Warga Bercanda, Begitulah Ngejalang Fest 2025 Adanya

Dalam satu tarikan napas pertanyaan itu mudah dijawab, penyebabnya lantaran Miftah menyandang status pejabat negara. Publik yang merasa berkontribusi menggaji Miftah, lewat pajak yang mereka bayar, tidak sudi mengupah orang yang demen bertutur kata serampangan. Titik! Intinya, pandai-pandai memantaskan diri.

Mendengar lalu lintas perbincangan yang selebor serempet sana-sini, si tokoh pemuda hanya menimpali dengan seulas senyum. Senyum khas pemuda yang pernah dilihat warga Kota Bandarlampung di banner-banner jelang gelaran pemilihan walikota kemarin.

Sampai kemudian obrolan menggelinding menyinggung sepak terjang politikus. Sebagai representasi pemuda, dia mengaku prihatin kalau tidak mau disebut kecewa. Keprihatinannya dipicu oleh syahwat politik para politisi bau kencur yang tanpa kapasitas tapi sudah kebelet kepingin berada di pucuk-pucuk kelembagaan legislator.

Padahal hampir bisa dipastikan mereka miskin pengalaman dan fakir gagasan. Lantas apa yang bisa diharapkan dari “anak-anak mami” yang cuma mengandalkan kapasitas dan kekayaan orang tuanya belaka itu.

Tak heran kalau kemudian politisi-politisi semacam ini tak memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial dan kering kerontang akan empati pada nasib orang banyak yang tidak beruntung. Politisi semacam ini kiranya tergolong pula selaku orang yang gagal memantaskan diri.

Baca Juga  Amanah di Singgasana, Bukan Sekadar Pencitraan

Fenomena politisi pepesan kosong serupa itu marak berlangsung di Lampung. Setidaknya ada tiga nama yang masuk radar dalam diskusi malam itu. Mereka disokong logistik memadai dari saku papi-maminya. Tak pelak bukan perkara sulit untuk melenggang ke kancah politik nasional.

Si tokoh pemuda itu berujar, kalau dari Lampung “mengirim” 3 politisi berstereotipe serupa itu dan fenomena sama juga terjadi pada provinis-provinsi lain, maka bisa tergambar bagaimana mereka akan memenuhi gedung perwakilan rakyat. Kemudian mudah pula diterka bagaimana kualitas lembaga legislatif kita. Menyedihkan sekaligus membikin jengkel.

Kalau kondisinya demikian, apakah tak ada lagi stok pemuda cerdas di Lampung yang mampu berkontribusi bagi peradaban politik kita? Ada, sahut si tokoh pemuda. Tapi mereka hanya bisa berkiprah sebatas tenaga ahli (TA) dari politisi-politisi tajir tadi. Mereka hanya menjadi orang bayaran yang tidak leluasa ikut menentukan warna politik. Mereka hanya bicara bila ditanya. Menganalisa kalau diminta. Selebihnya, duduk manut menunggu perintah. Tak ubahnya orang suruhan.

Baca Juga  Dari Dapur MBG ke Meja Anak: Siapa yang Kenyang Sebenarnya?

Jelas ini malapetaka. Betapa suramnya nasib negeri ini. Apakah sudah tanpa harapan lagi buat punya maruah sebagai bangsa yang berkeadilan sosial?

Ada, jawab si tokoh pemuda. Karena arus utama saat ini sangat pragmatis dan oportunis, maka orang-orang beradab dan berakhlak mesti menghanyutkan diri di arus gelombang itu. Tentu, publik yang mencermati rekam jejak orang baik ini, bakal menebar gunjing. Menganggap dia sudah terseret arus. Pengkhianat!

Tapi jauh di lubuk hati orang itu tetap terjaga spirit Robin Hood. Tokoh yang melegenda sebagai perampok harta bangsawan dan membagikan hasil jarahannya ke rakyat jelata nan miskin.

Kalau ada banyak orang semacam ini yang menyelusup ke jajaran politisi dengan menunggangi para oligarki, lalu memanipulasi keadaan serta melakukan cipta kondisi, hingga kemudian ketika tiba waktunya baru menunjukkan jati diri sesungguhnya untuk menyelamatkan maruah perpolitikan daerah dan nasional. Barulah ada kemungkinan bangsa ini terselamatkan.

“Kita semua berharap muncul para pengkhianat yang berkhianat semacam itu,” timpal si tokoh pemuda dengan nada bergetar. (*) 

Berita Terkait

Dari Dapur MBG ke Meja Anak: Siapa yang Kenyang Sebenarnya?
“GoodB(a)y” Bibi, Lupakan Mimpi Jadi Raja Bayangan
Labuhan Jukung Ditinggal Wisatawan, Ada Apa dengan Tata Kelolanya?
ASN Lampung Barat di Persimpangan 2026
Lampung Barat: Ketika Amanah Dijadikan Pekerjaan Paruh Waktu
Tujuh Pejabat Baru, Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai
Amanah di Singgasana, Bukan Sekadar Pencitraan
Kunker ke Lampung Barat, Gubernur Bawa Dua Janji Manis

Berita Terkait

Jumat, 16 Januari 2026 - 11:46 WIB

Papa Rock n Roll Gelar Tubaba Berirama, UMKM Berjaya

Kamis, 8 Januari 2026 - 17:03 WIB

ADD Tubaba 2026 Menyusut, Siltap Kepala Tiyuh dan Aparatur Ikut Terpangkas

Kamis, 8 Januari 2026 - 16:07 WIB

Kementerian PUPR Survei Lahan Usulan Sekolah Rakyat di Tubaba

Rabu, 7 Januari 2026 - 19:34 WIB

Kejari Tubaba Naikkan Kasus Dugaan Penyimpangan Dana Revolving Sapi ke Pidsus

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:30 WIB

Sejumlah Pejabat Resmi Dilantik, Bupati Tubaba Minta ASN Bekerja Profesional

Kamis, 1 Januari 2026 - 11:58 WIB

Kapolres Tubaba Ungkap Capaian Penanganan Kamtibmas Selama 2025

Minggu, 28 Desember 2025 - 10:44 WIB

Pemerintah Tiyuh Pulung Kencana Salurkan BLT Dana Desa Tahap IV

Sabtu, 27 Desember 2025 - 22:35 WIB

Capai Rp1,35 Miliar, Tiyuh Panaragan Realisasikan Program Dana Desa 2025

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Papa Rock n Roll Gelar Tubaba Berirama, UMKM Berjaya

Jumat, 16 Jan 2026 - 11:46 WIB

Lampung Selatan

Bupati Egi Resmikan Jalan Kota Baru–Sinar Rejeki

Kamis, 15 Jan 2026 - 21:42 WIB

Lampung

Pemprov Lampung Perkuat Pengawasan Daerah di Rakorwasda 2026

Kamis, 15 Jan 2026 - 13:03 WIB