oleh

37 KK Masih di Lokasi Penggusuran, Donasi Berdatangan

Bandarlampung (Netizenku.com): Pasca penggusuran Kampung Pasar Griya Sukarame, para donatur terus berdatangan guna memberikan bantuan kebutuhan pangan dan juga melihat keadaan warga yang masih bertahan di lokasi lantaran kebingungan mencari tempat tinggal.

Berdasarkan pantauan lapangan, warga yang kini hanya beralas tanah dan beratap langit, masih mencari barang yang berada di antara puing agar bisa dimanfaatkan dan dijual sebagai penyambung hidup.

Para aktivis mahasiswa pun menginap di lokasi sembari melakukan penggalangan dana bagi warga yang menjadi korban penggusuran. Berdasarkan keterangan salah seorang mahasiswa di lokasi, Haikal, mereka telah mengumpulkan uang sebesar Rp2,5 juta sampai Rabu (25/7).

Baca Juga  Zainuddin \"Ngamuk\" di Lapas Rajabasa

\”Sampai sore ini kita sudah kumpulkan 2,5 juta rupiah. Kemudian, kami juga mendapatkan bantuan air bersih dan juga kebutuhan pokok yang bisa dimanfaatkan oleh warga di lokasi,\” kata dia.

Tak hanya penggalangan sosial, Ketua DPW Sekretariat Nasional Jokowi Lampung, Siti Noerlaila pun langsung menemui warga di lokasi dalam rasa keprihatinan. Dirinya pun tidak membenarkan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah kota dalam proses penggusuran.

Baca Juga  Curhat Eva Dwiana di SKPP Bawaslu RI

\”Kami sengaja ke sini untuk melihat keadaan warga. Kami bawa beras, air bersih dan mie instan yang bisa digunakan warga untuk beberapa hari ke depan. Dalam proses ini, meskipun lahan milik pemkot, kekerasan yang dilakukan oleh aparat tidak bisa dibenarkan dan dianggap wajar,\” kata dia.

Dirinya pun mengaku akan menyurati Walikota Herman HN terkait korban penggusuran yang belum memiliki kejelasan tempat tinggal. \”Hak mereka tidak boleh diabaikan oleh pemerintah kota. Mereka harus diberikan tempat tinggal sementara, dan juga diarahkan agar mendapatkan pekerjaan yang layak. Karena itu merupakan hak ekonomi dari warga di sini,\” pungkasnya.

Baca Juga  Pemerintah Diminta Bantu Masyarakat Terdampak PPKM Mikro

Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, masih ada 37 kepala keluarga (KK) dan 24 anak yang bersekolah di lokasi penggusuran. Sebagian anak terpaksa harus berangkat sekolah tanpa menggunakan seragam lantaran sepatu dan baju seragam tertimbun puing reruntuhan.(Agis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *