oleh

Rangkaian FSB ke-6, Hippun Adat Jadi Daya Tarik Wisatawan

Liwa (Netizenku.com): Salah satu rangkaian besar Festival Sekala Bekhak (FSB) ke-6 adalah Hippun Adat, yang paling menarik bagi wisatawan asal luar Lampung Barat serta para fotografer dari berbagai wilayah. Sebab pada momen tersebut, seluruh masyarakat adat hadir dengan pakaian adat kebesaran masing-masing.

\”Alhamdulillah ini untuk kedua kalinya saya dapat menyaksikan langsung hippun adat, yang sebelumnya saat dilangsungkan di gedung dalam Kepaksian Pernong, dan pada momen ini dapat disaksikan langsung kebesaran kerajaan Paksi Pak Sekala Bekhak,\” kata Yulia, salah satu pengunjung asal Bandarlampung, Selasa (9/7).

\"\"

Kalau melihat proses adat saat ini kata Yulia, masyarakat Lampung Barat masih sangat mempertahankan adat istiadat leluhur asal masyarakat Lampung, selain proses penyambutan tamu agung menggunakan alam gemisikh, penyajian makanan menggunakan pahakh, pakaian adat yang digunakan masing-masing Kepaksian juga memberikan ciri khas masing-masing.

Baca Juga  Jalan Ambrol, Pemkab Pesibar Pasif, Legislator RI Meradang

\”Kekuatan adat di Lampung Barat, adalah tidak ada istilah orang dapat menjadi raja atau sultan dengan kekuatan uang, mereka masih mempertahankan garis keturunan, dan kalau mau menjadi bagian dari keluarga besar kerjaan, berdasarkan hubungan baik atau sering disebut angkon muakhi, atau garis pernikahan,\” kata dia.

Hippun adat sai batin paksi yang dipusatkan di Gedung Dapok Kepaksian Way Bejalan Di Way, Pekon Kembahang kecamatan Batubrak, yang dihadiri bupati, Parosil Mabsus, wakil bupati, Mad Hasnurin, Kapolres AKBP Doni Wahyudi, S.Ik, Kasdim 0422 Mayor Inf Agus Susanto, menghasilkan beberapa rekomendasi dan keputusan, yakni dilestarikannya motif celugam yang merupakan motif asli masyarakat Lampung Barat, melestarikan dan membangkitkan kembali kesenian nyambai.

Baca Juga  Tiga Atlet Lambar Dipastikan Lolos Popwil 2020

\"\"

Lalu, memberi spirit baru pada budaya kesenian sekura, penghargaan kepada Pemkab Lampung Barat dengan dibangunnya Puskesmas Rawat Inap (PRI) yang representatif, dan diharapkan DPRD serta Pemkab merevisi Perda Nomor 14 Tahun 2000 agar lebih menekan fungsi sai batin, Pemkab diminta menerbitkan aturan tentang pakaian adat yang diperkenankan di pakai pejabat pemerintah dan dalam rangka efisiensi hippun adat hanya akan dilaksanakan pada Tahun ganjil kecuali ada kebutuhan mendesak.

Bupati Parosil, mengatakan hippun adat ini dalam rangka melestarikan budaya dan segala tati titi dalam adat istiadat saibatin, segala perangkat dan keagungan adat bisa disaksikan dalam perhelatan ini, kekayaan ini membanggakan dan sekaligus menjadi daya tarik orang luar untuk bisa berkunjung dan menikmati serta terlibat langsung dalam adat istiadat yang ada di tanah Lampung.

Baca Juga  Adri: Semua Dilakukan untuk Kepentingan Masyarakat

\”Momen kegiatan adat yang lengkap sudah jarang kita saksikan, maka dengan hippun adat ini menjadi sarana generasi muda mempelajari tentang adat budaya masyarakat Lampung khususnya Lampung Barat, semoga generasi muda semakin mengenal dan mencintai budaya nenek moyang sendiri, dan menjadi destinasi wisata bagi masyarakat luar,\” harap Parosil. (Iwan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *