Bandarlampung (Netizenku.com): Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, Anwar Fuadi, berharap produk UMKM sub peternakan dapat menembus pasar modern, seperti toko retail.
“Kita berharap produk UMKM Kita dapat dipasarkan di toko-toko retail maupun di pasar modern, bukan hanya di pasar tradisional saja,” kata Anwar saat ditemui usai sambutan acara Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung yang bertajuk business matching sektor peternakan di Hotel Horison, Selasa (19/12).
Menurut Anwar, dengan menembus pasar modern, daya jual produk UMKM sub peternakan akan meningkat, sehingga perekonomian pelaku UMKM akan membaik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, Anwar mengakui bahwa terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pelaku UMKM sub peternakan dalam menembus pasar modern.
Kendala tersebut antara lain kurangnya literasi digital, sehingga menyulitkan pemasaran melalui media digital. Selain itu, kualitas produk UMKM sub peternakan yang belum konsisten juga menjadi salah satu kendala. Hal ini membuat pelaku UMKM kesulitan mendapatkan sertifikasi bertaraf nasional.
“Melalui acara business matching sektor peternakan ini, kita berharap dapat menemukan solusi yang tepat, karena di sini ada dari perbankan, asosiasi, pelaku UMKM, maupun pengusaha toko retail,” lanjutnya.
Kemudian, Kepala Bidang Usaha Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung, Abdul Salam Nasrudin, membenarkan atas kesulitan pemasaran produk UMKM sub peternakan pada toko retail di Provinsi Lampung. Dari sekian banyak pelaku UMKM sub peternakan, hanya beberapa saja yang dapat memasarkan produk turunannya di toko retail.
“Faktor kurangnya modal menjadi salah satu permasalahan, selain itu masih banyak produk sub peternakan yang kesulitan melengkapi sarat sertifikasi produk,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, pelaku UMKM sub peternakan, Eva, mengatakan bahwa kendala kurangnya modal menjadi permasalahan utama untuk menembus pasar retail. Hal ini lantaran, pada toko retail diberlakukan pembayaran setiap satu bulan sekali. Sehingga dengan rentan waktu yang pendek tersebut membutuhkan modal yang besar untuk stok produk pada toko retail.
Selain itu, Eva juga menjelaskan bahwa masyarakat Lampung masih kurang sadar ihwal pentingnya membeli produk UMKM lokal.
Seperti produk bubuk susu kambing, misalnya, meskipun memiliki segudang manfaat dan terjamin keamanannya, tetap saja masyarakat Lampung lebih memilih susu kental manis atau susu bubuk dengan harga yang lebih murah.
“Untuk pembelinya hanya orang-orang yang sudah mengerti-ngerti saja,” tutupnya. (Luki)








