Meskipun usianya masih muda, Muhammad Nurhayatun Nufus telah banyak mendedikasikan dirinya untuk kemajuan budaya di Lampung. Melalui ide kreatifnya, ia telah mengangkat budaya Lampung ke tingkat nasional bahkan dunia.
Lampung (Netizenku.com): Sebanyak sepuluh anak berkostum biru muda menari lincah di depan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal. Diiringi tabuhan Talo Balak, anak-anak asli Kecamatan Jabung, Lampung Timur, itu menari pada acara Hari Ulang Tahun Provinsi Lampung ke-61.
“Bisa dikatakan saya adalah satu-satunya seniman yang mengangkat kebudayaan Jabung, Lampung Timur,” kenang Nufus bangga pada saat ditemui di rumahnya, Sabtu (24/5/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tari Cetik Deghani adalah satu dari banyaknya karya Nufus yang mengangkat kebudayaan Lampung.
Awal Mula Mengenal Seni
Nufus mulai mengenal dunia seni pada saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Di kampungnya, ia dikenal sebagai vokalis qasidah pada grup hadrah Al-Hikmah.
Kepiawaiannya dalam melantunkan selawat membuat ia sering dipanggil ke berbagai acara. Bahkan jika kelompok qasidah lain tidak ada vokalisnya, Nufus akan diminta sebagai penggantinya.
“Walau cakupannya di tingkat desa, tapi sudah bisa melatih mental saya,” kata Nufus dengan antusias.
Untuk mengembangkan bakatnya, saat duduk di bangku SMP ia bergabung dengan sanggar seni tari di Kabupaten Lampung Utara. Dari sanggar ini, ia mulai mengenal seni tari.
Berbagai kompetisi dan gelaran budaya pernah ia ikuti. Modal ini juga yang membuat Nufus mendapatkan beasiswa pada saat
melanjutkan pendidikan di jenjang sekolah menengah atas. “Alhamdulillah dari sertifikat-sertifikat itu saya bisa mendapatkan beasiswa,” terangnya.
Di tempatnya yang baru, MAN 1 Lampung Utara, Nufus semakin berkembang. Meski masih sebagai siswa baru, pengalaman yang ia dapatkan sebelumnya membuat ia dipercaya untuk membimbing berbagai kegiatan tari.
Pengalaman adalah guru terbaik, Nufus semakin mencintai kesenian. Ia memantapkan diri untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Ia melanjutkan pendidikan di Program Studi Seni Tari Universitas Lampung. Atas prestasinya di masa sekolah, Nufus mendapatkan beasiswa Bidikmisi.
Sebagai mahasiswa baru, Nufus harus tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Unila. Sedangkan kampus ia belajar jaraknya harus ditempuh dengan dua kali naik angkot.
Untuk menutupi kebutuhannya tersebut ia berjualan gorengan. “Lumayan, bisa buat menutup ongkos angkot setiap hari,” imbuhnya.
Aktivitas ini ia jalankan selama kurang lebih satu tahun pertama pada masa kuliah.Di tahun berikutnya, Nufus memilih tinggal di indekos yang lebih dekat dengan kampusnya. Di kamar berukuran 2,5×3 meter inilah ia merintis sebagai pekerja seni.
Ia mulai ikut bergabung dengan sanggar-sanggar dan menerima pekerjaan sebagai penari lepas. “Menari kan hobi saya, jadi ya seperti bukan bekerja. Tapi menambah pengalaman dan relasi,” terangnya.
Selama menerima pekerjaan menari, Nufus tidak pernah berorientasi pada uang. Jika beruntung, uang sebesar Rp80.000–Rp100.000 bisa dikantongi. Tapi kadang juga hanya sekadar makan gratis. “Lumayan tiap minggu kita bisa makan daging,” kelakarnya.
Merintis Karir sebagai Profesional
Bagi pria kelahiran Kotabumi, 30 tahun silam itu, kesulitan selama menempuh pendidikan di perkuliahan bukanlah sebuah hambatan.
Kepiawaiannya dalam mengolah tubuh dalam gerakan tari membukakan peluang besar untuknya berkarir. Banyaknya pekerjaan yang ia ambil saat masa perkuliahan membuat
Nufus bertemu banyak pegiat seni di Lampung. Relasi itulah yang kemudian ia jaga untuk membesarkan namanya sebagai seniman dan budayawan asal Lampung.
Meskipun berasal dari Program Studi Pendidikan Seni Tari, Nufus memilih untuk tidak menjadi guru. Mencoba menjadi guru telah ia rasakan ketika awal setelah selesai kuliah, namun kemudian dia memilih untuk tidak melanjutkannya.
Nufus merasa waktunya banyak terkuras saat menjadi guru, sehingga ide-ide kreatif yang tiba-tiba datang kerap tidak terealisasi.
“Gimana ya, bukannya nggak mau, tapi nggak ada waktu untuk mengeksekusi ide-ide yang sudah terkumpul di pikiran. Toh, rezeki kan nggak hanya dari satu jalan. Nggak harus menyerok ikan di kolam yang sama,” jelas Nufus.
Kostum-kostum tari dengan sentuhan wastra budaya memenuhi rumahnya yang minimalis berukuran sekitar 8×6 meter. Sebagian digantung di dalam lemari, sebagian lagi dibiarkan menggantung pada palang besi.
Sisanya, baju-baju lawas ia tumpuk di dalam kardus. Ada juga mesin jahit yang ia gunakan
untuk membuat baju-baju tari. Barang-barang ini adalah saksi, bagaimana Nurhayatun Nufus serius menggeluti dunia seni.
Sanggar Nuvusa Etnika adalah langkah awal Nufus memulai karir profesional di bidang bisnis kreatif ini. Nufus bukan sekadar menari, namun ia mengangkat budaya Lampung ke permukaan.
Ia telah menciptakan sejumlah tarian yang mengangkat budaya Lampung dalam berbagai acara. Kupak Kapay, Melinting Agung, Tari Keagungan 1200 Tahun Borobudur, The Aesthetic of East Lampung dan Harmoni Sai Bumi Khua Jurai adalah contoh tarian yang pernah ia ciptakan.
Kecintaannya terhadap dunia seni ini tak terbatas pada tarian. Nufus juga mengembangkan kreativitasnya dalam memajukan wastra Lampung. Rancangan busana yang dipadukan dengan wastra
Lampung telah membawanya ke panggung nasional bahkan internasional.
Karyanya berhasil melenggang dalam gelaran Indonesia Fashion Week pada tahun 2023 dan 2024, serta acara JIEXPO di Kemayoran. Selain itu Nufus juga telah mewakili Indonesia dalam perhelatan seni budaya tingkat internasional pada ajang Festival Music and Dance di Kathmandu, Nepal. Kemudian pada acara King Abdul Aziz Festival di Arab Saudi, dan empat negara lain seperti Kyrgyzstan, Thailand, Malaysia, dan Australia.
“Kalau sudah cinta, apapun pasti dilakukan. Nggak bisa dihitung dengan materi apapun. Dan kalau kita melakukan sesuatu yang baik, nantinya akan kembali ke kita, kok,” tuturnya.
Nufus mengatakan bahwa semua yang ia lakukan di dunia kesenian bukan semata-mata untuk eksistensi dirinya secara pribadi. Namun juga untuk merawat budaya, terutama budaya Lampung–tempat ia berasal.
Nufus berharap, agar kalangan pemuda sadar bahwa apa yang telah diberikan untuk tanah
kelahirannya. Tidak terpaku pada kesenian, hal apapun itu yang dapat berdedikasi. Ia juga berpesan, bahwa setiap orang mempunyai bakat dan keahliannya masing-masing.
“Carilah tempat di mana kita bersinar terang. Dan seni adalah jalan yang saya pilih untuk bersinar,” tutupnya. (*)









