oleh

Kepaksian Pernong Usulkan Nama Lamban Kagungan Pancasila

Liwa (Netizenku.com): Menurut wacana lamban budaya yang diberi nama Lamban Pancasila yang dibangun sejak 2019 di lahan eks GSG kompleks perkantoran Pemkab Lampung Barat, akan diresmikan, Kamis (24/11).

Ide besar Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, dan Wakil Bupati Mad Hasnurin, memberikan sarana merawat dan melestarikan adat budaya, disambut baik tokoh kerajaan adat Paksi Pak Sekala Bekhak, Kepaksian Pernong.

Melalui juru bicara kerajaan adat Paksi Pak Sekala Bkhak Kepaksian Pernong, Seem R Canggu, gelar Raja Duta Perbangsa, menyambut baik dan terima kasih atas perhatian Pemkab Lampung Barat di bawah kepemimpinan Parosil merawat adat budaya Sai Batin di Kerajaan Paksi Pak Sekala Bekhak.

Baca Juga  200 PTT Lambar Terima SK Bupati

“Alhamdulillah, walaupun diterpa krisis akibat pandemi Covid-19, bupati Parosil tetap menyelesaikan komitmen dalam memberikan sarana merawat dan melestarikan budaya, yakni berupa Lamban Budaya atau Lamban Pancasila,” kata dia.

Tetapi kata dia, dengan tidak mengurangi rasa hanggum atau bahagia, dalam pemberian nama Lamban Budaya tersebut, Kepaksian Pernong mengusulkan nama kerajaan adat liki khas adat Sai Batin.

Baca Juga  Jalan Amblas, Warga Pesibar Harapkan Respon Pemkab

“Adat Sat Batin memiliki ciri khas, jadi untuk menggambarkan kekhususan tersebut, kami dari Kepaksian Pernong, mengusulkan nama, bukan hanya Lamban Pancasila, tetapi Lamban Kagungan Pancasila,” harap Raja Duta Perbangsa.

Lamban Kagungan Pancasila, itu nanti kata dia, merupakan sebagai salah satu icon pariwisata Lampung Barat, dengan menjadi miniatur eksistesi Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bkhak, baik secara estetika maupun kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.

Baca Juga  Wabup Lampung Barat Tinjau Pembangunan Jalan Penghubung Pekon Turgak-Sukakhaja

“Budaya Kerajaan adat Paksi Pak Sekala Bkhak, merupakan potensi wisata budaya, maka dengan adanya Lamban Kagungan Pancasila, dapat menggambarkan atau miniatur keberadaan Kerajaan Adat Paksi Pak Sekala Bkhak, baik secara estetika maupun kegiatan yang dipusatkan di lamban budaya tersebut,” tandasnya. (Iwan/Leni)