Bandarlampung (Netizenku.com): Bertahun-tahun mangkrak, sejumlah pedagang menanti pembangunan Eks Pasar Smep dapat segera diselesaikan.
Salah satunya, Tini (53), pedagang sembako ini berharap pembangunan pasar tersebut segera dapat diselesaikan, agar dirinya bersama pedagang lain dapat mendapatkan tempat nyaman untuk berdagang.
Pasalnya, pembangunan tersebut juga berdampak pada sejumlah pedagang yang masih bertahan. Di mana, pasar di wilayah setempat sangat minim disinggahi oleh pelanggan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
\”Ya begini mas. Nggak ada yang lewat. Ke sana nggak bisa. Maunya ya cepet jadi, biar rame lagi,\” kata Tini.
Hal itu tentunya berpengaruh pada anjloknya omzet para pedagang. Di mana penurunan omzet yang dialami secara merata itu turun berkali-kali lipat.
\”Ya lumayan, dari setengah 6 sampai jam segini (pukul 12.00 WIB) belum dapat Rp500 ribu. Kalau dahulu Rp4 juta sampai Rp5 juta. Udah jauh banget. 3 jam saja belum tentu melayani,\” ungkapnya.
Di tambah lagi, lanjutnya, Tini beserta sejumlah pedagang lain harus membayar uang sewa berjuta-juta rupiah.
\”Yah gimana, mau pindah kemana. Saya juga di sini nyewa. Saya sih sabar aja, harapanya cepat jadi pasarnya, jadi kan bisa hidup lagi,\” ujar Tini.
Terkait penempatan lapak di Pasar Smep, dirinya mengaku telah dilakukan pendataan oleh Dinas Perdagangan Kota Bandarlampung. Namun berapa jumlah harga yang akan dikeluarkan oleh pedagang yang menyewa lapak belum terungkap.
\”Kita juga masih nunggu udah jadi, udah didata sih. Cuma sistem kontrak, nggak boleh dibeli katanya,\” bebernya.
Dimintai komentar terkait pembangunan yang bakal bernuansa modern itu, Tini memiliki persepsi lain. Meskipun dirinya sangat mengapresiasi kebijakan yang diambil Pemerintah Kota Bandarlampung dalam melanjutkan kasus pembangunan pasar itu.
Menurut Tini, Pasar Smep lebih apik bernuansa modern. Ia membandingkan pada bangunan Mal Ramaya Tanjungkarang, di mana saat ini, keadaan gedung tak layak jika dinaiki oleh kendaraan di atasnya.
\”Pasar kok parkiran di atas ya, Mas. Contoh saja ramayana, mana sekarang? mobil nggak bisa naik. Masa pasar tradisional dijadiin modern?\” pungkasnya.
Dalam pantauan Netizenku.com, pembangunan Pasar yang sempat mangkrak bertahun-tahun itu kini telah berdiri dua lantai. Namun kondisinya cukup memprihatinkan. Pasalnya, pembangunan yang belum tuntas 100 persen pengerjaannya itu digenangi air di bagian basement.
Sementara pembangunan tahap ke dua sendiri akan segera dilanjutkan setelah selesainya masa pelelangan.
“Untuk pengerjaan belum dilakukan karena kan kita lelang dulu, pengadaan dulu, baru kemudian kita mulai pengerjaan di lapangan,” ungkap Iwan Gunawan, Kadis PU Bandarlampung beberapa waktu lalu.
Secara keseluruhan bangunan pasar ini terdiri dari tiga lantai. Pemkot Bandarlampung mengalokasikan anggaran sebesar Rp25 miliar dalam APBB 2019 dan biaya tambahan sebesar Rp20 miliar dari APBD 2020 untuk tahap kedua.
Nantinya, pasar dengan total keseluruhan pembangunan senilai Rp45 miliar itu akan menyediakan ruang sebanyak 600-700 kios. Termasuk area parkir dan basemant. Dalam desain sendiri bangunan Pasar Smep memiliki luas 63 x 56 meter.
Sebelum diambil alih oleh Pemkot Bandarlampung, proyek pembangunan Pasar SMEP modern mulai dicetuskan pada 2013. Pembangunan Pasar SMEP awalnya berkonsep cukup megah, dengan konsep seperti mal dan hotel. Saat ini, pasar tersebut dirancang ulang dengan kemampuan keuangan yang ada.
Diketahui proyek tersebut semula dikerjakan oleh pihak ketiga, yakni PT Prabu Artha milik Ferry Sulistyo, dengan desain kian modern berlantai delapan.
Namun proyek yang dimulai dengan merubuhkan bangunan lama dan menggali tanah sedalam lebih dari lima meter untuk area basement justru mangkrak dan menjadi embung.
Ketika proyek belum tuntas, bos PT Prabu Artha sudah kabur. Pasar tradisional bersejarah tersebut pun telah dirubuhkan, padahal pemilik kios telah membayar uang muka untuk kios baru yang justru tak jelas nasibnya. (Adi)








