Generasi Sat-set Wartawan Masa Kini

Hendri Setiadi

Jumat, 4 April 2025 - 13:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

(Ilustrasi pinterest)

(Ilustrasi pinterest)

Wartawan sebentar. Lalu mendapuk diri sebagai redaktur. Sekejap kemudian menjadi pemilik media. Alangkah cerdas dan taktisnya wartawan masa kini.

(Netizenku.com): Wartawan lama kerap terbengong-bengong mengamati lompatan zig-zag yang diambil anak-anak muda yang menceburkan diri di jurnalistik. Begitu atraktif. Sangat bernyali. Berkemauan tinggi. Tak peduli apa kata orang yang penting fokus pada tujuan.

Saking takjub tak sedikit wartawan lama yang pada awalnya bereaksi merutuki diri. Betapa pandir mereka selama ini. Buktinya, ketika masa-masa awal menjadi wartawan dulu, tidak pernah terpikir untuk cepat-cepat merubah nasib. Mereka malah seperti kerbau dicocok hidungnya. Mau-maunya berlama-lama “disiksa” redaktur pergi ke sana- kemari untuk meliput ini-itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sudah pun menurut bukan pujian yang tersaji. Tak jarang redaktur tetap saja mendelik. Menemukan kesalahan dan kekurangan. Ganjarannya, tanpa ampun, diminta lagi kembali ke narasumber untuk melengkapi tulisan. Baru kemudian menulis ulang berita secara benar dan apik.

Wartawan lama juga merasa tidak punya nyali seperti wartawan masa kini. Mestinya, dulu mereka berontak. Berani buka mulut. Bukan untuk memaki balik redaktur, tapi setidaknya sekadar bilang, “Bos, kalau saya sudah bisa tulis berita secara lengkap, bagus, apik dan menarik. Terus apa kerja Bos?”

Baca Juga  ASN Lampung Barat di Persimpangan 2026

Di situlah letak kelemahan wartawan lama. Biar pun akhirnya bisa menulis apik, tapi tidak terlatih membangkang redaktur. Alih-alih mendebat, malah lebih rela menyiksa diri. Menelan mentah-mentah apa yang dititahkan redaktur. Terlalu legowo. Sampai cenderung menyalahkan diri sendiri. “Iya sih, datanya memang kurang lengkap” atau “Bener juga, setelah dirubah begini, beritanya jadi enak dibaca”.

Wartawan lama juga suka minderan. Jangankan didapuk menjadi redaktur. Ditugasi sebagai asisten redaktur saja rasanya sudah campur aduk. Tidak dipungkiri terselip rasa senang. Tapi yang mendominasi justru lebih merasa ketar-ketir. Khawatir menopang beban tanggung jawab yang lebih besar. Was-was kalau tak mampu menjaga atau meningkatkan kualitas redaksional, serta takut gagal mengkader wartawan.

Padahal semua itu ketakutan yang berlebihan. Karena kalau ditinjau dari segi jam terbang dan kemampuan sudah memadai. Tapi itulah wartawan lama. Terlalu mengkultuskan hirarki jabatan redaksi. Malah kadang kelewat mengagung-agungkan senior.

Coba bandingkan dengan prestasi wartawan masa kini. Baru sebentar jadi wartawan, lalu ikut Uji Kompetensi Wartawan (UKW), semenjak itu pula langkahnya melejit. Bahkan, tidak sedikit pula yang tak terlihat aktif di redaksi, tapi rajin ikut UKW, predikatnya sontak melesat bak meteor dan tanpa aral melintang status wartawan utama sudah dalam genggaman. Ini sungguh taktis. Sebuah perpaduan ciamik antara kecerdasan dan kejelian melihat peluang yang jarang dimiliki wartawan lama.

Baca Juga  Dari Dapur MBG ke Meja Anak: Siapa yang Kenyang Sebenarnya?

Tidak itu saja, wartawan masa kini juga terbilang cepat belajar, tidak perlu berlama-lama mengasah kemampuan diri sebagai jurnalis seperti melatih daya tembus mengakses narasumber, membuat tulisan feature, investigative reporting, opini, esai dan tajuk rencana.

Semua tahapan itu dalam sekelebatan bisa dilampaui. Apalagi namanya kalau bukan karena piawai dan terampil. Ini jelas kemampuan di atas rata-rata. Sementara wartawan lama tak jarang butuh waktu belasan tahun untuk tiba ke posisi redaktur.

Tak sampai di situ. Di era disrupsi digital yang datang bak menenteng pedang Raja Brama Kumbara, mata pedangnya mampu menebas aral rintangan untuk membuka jalur mudah membuat media daring (dalam jaringan internet). Berbekal sertifikat UKW di saku, tanpa mesti berjuang berdarah-darah, melenggang santai menuju singgasana kursi pemimpin redaksi.

Baca Juga  Lampung Barat: Ketika Amanah Dijadikan Pekerjaan Paruh Waktu

Tidak sedikit pula yang malah mengejawantah menjadi pemilik media. Sebuah predikat yang di masa lalu, atau bahkan pasca reformasi, merupakan posisi adiluhung yang tidak sembarang orang bisa mendudukinya. Tak salah memang menyebut generasi wartawan masa kini memiliki nyali besar. Punya keberanian menerabas tradisi hirarki redaksi.

Kalau kemudian ada yang mempersoalkan, ah abaikan saja. Biarkan anjing menggonggong dan kafilah terus berlalu. Peduli setan omongan orang, tetap (saja) fokus menggapai tujuan. Demikian mungkin dalih kebanyakan wartawan masa kini sambil mengutip ungkapan bijak, “Lain zaman, beda pula tantangan. Jadi jangan disama-samain”.

Benar juga. Eranya sekarang memang sudah berubah. Semua orang punya kesempatan yang sama. Jadi wartawan lama juga bisa melakukannya. Tak ada soal.

Ketika hal ini saya sampaikan ke seorang rekan yang sudah puluhan tahun menggeluti dunia jurnalistik, tanpa dinyana dia menjawab, “Iya benar, aturan mainnya memang sudah berbeda. Tapi aku kok tetap malu ya untuk buat website sendiri. Nanti dibilang owner. Pengusaha media. Ah, nggak sanggup aku”.(*)

Berita Terkait

Dari Dapur MBG ke Meja Anak: Siapa yang Kenyang Sebenarnya?
“GoodB(a)y” Bibi, Lupakan Mimpi Jadi Raja Bayangan
Labuhan Jukung Ditinggal Wisatawan, Ada Apa dengan Tata Kelolanya?
ASN Lampung Barat di Persimpangan 2026
Lampung Barat: Ketika Amanah Dijadikan Pekerjaan Paruh Waktu
Tujuh Pejabat Baru, Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai
Amanah di Singgasana, Bukan Sekadar Pencitraan
Kunker ke Lampung Barat, Gubernur Bawa Dua Janji Manis

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 00:02 WIB

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Senin, 2 Februari 2026 - 21:18 WIB

Triga Lampung Temui Kemenhan, Bahas Keberlanjutan Lahan Tebu Eks SGC

Senin, 2 Februari 2026 - 17:28 WIB

Kempeskan Ban Mobil Mahasiswa, Anggota DPRD Lampung Terancam Sidang Etik

Senin, 2 Februari 2026 - 13:53 WIB

KONI Lampung Intensif Pantau Atlet Berprestasi Jelang PON 2028 dan Persiapan Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Februari 2026 - 13:38 WIB

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:51 WIB

Yusnadi, Sesalkan Kebijakan RSUD Sukadana yang Wajibkan Pasien Gunakan Ambulans Rumah Sakit Saat Rujukan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:18 WIB

TRIGA Lampung Kepung Kejaksaan Agung–KPK, Bongkar Dugaan Oligarki Gula, Pajak, dan Politik Uang

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:13 WIB

Bapenda Lampung dan GGPC Perkuat Sinergi Optimalisasi PAD

Berita Terbaru

Lampung

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Selasa, 3 Feb 2026 - 00:02 WIB

Lampung

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Feb 2026 - 13:38 WIB