Ketua Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Ahmad Basuki atau Abas, mendorong perluasan akses jagung pakan bersubsidi seharga Rp5.000 per kilogram bagi peternak ayam petelur mikro di seluruh kabupaten/kota di Lampung.
Lampung (Netizenku.com): Dorongan tersebut disampaikan menyusul peluncuran penyaluran bantuan subsidi Jagung Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bagi peternak ayam petelur mikro di Kabupaten Lampung Timur.
Abas menilai program tersebut menjadi langkah positif untuk membantu peternak rakyat memperoleh bahan baku pakan dengan harga terjangkau. Terlebih, biaya pakan merupakan salah satu komponen terbesar dalam operasional usaha peternakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini merupakan langkah positif yang perlu kita apresiasi. Peternak mikro membutuhkan dukungan nyata, terutama dalam mendapatkan bahan baku pakan dengan harga yang terjangkau. Akses jagung Rp5.000 per kilogram tentu menjadi kabar baik apabila dapat dijalankan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak peternak,” kata Abas, Jumat (06/11/2026).
Menurutnya, akses terhadap jagung dengan harga terjangkau perlu diperluas agar manfaat program tidak hanya dirasakan kelompok peternak tertentu, tetapi juga menjangkau peternak mikro dan kecil di berbagai daerah.
Ia mengingatkan, Lampung sebagai salah satu sentra produksi jagung nasional semestinya mampu memastikan kebutuhan bahan baku pakan bagi peternak lokal terpenuhi.
“Jangan sampai kita menjadi daerah penghasil jagung, tetapi peternak kita justru kesulitan mendapatkan bahan baku pakan. Petani jagung harus sejahtera, tetapi peternak rakyat juga harus mendapatkan perlindungan,” tegasnya.
Untuk itu, Abas mendorong pemerintah pusat dan daerah, Perum Bulog, serta instansi terkait memperkuat koordinasi dalam menjaga ketersediaan dan distribusi jagung melalui program SPHP.
Ia juga menekankan pentingnya mekanisme penyaluran yang transparan dan mudah diakses, mulai dari pendataan peternak, kepastian volume pasokan hingga pemerataan distribusi.
Menurut Abas, program tersebut harus mengutamakan kebutuhan peternak mikro dan kecil yang memiliki keterbatasan modal serta daya beli dibandingkan perusahaan peternakan berskala besar.
Lebih lanjut, ia menilai kebijakan jagung perlu dibangun dalam satu ekosistem yang menghubungkan kepentingan petani dan peternak. Petani membutuhkan kepastian pasar dan harga jual yang layak, sedangkan peternak memerlukan pasokan bahan baku pakan dengan harga kompetitif.
“Kita ingin membangun ekosistem yang saling menguntungkan. Petani jagung mendapatkan kepastian pasar, peternak mendapatkan bahan baku yang terjangkau, dan masyarakat memperoleh produk pangan seperti telur dan daging ayam dengan harga yang wajar,” jelasnya.
Abas berharap penyaluran Jagung SPHP bagi peternak mikro di Lampung Timur dapat menjadi model yang diterapkan di wilayah lain sehingga manfaat program dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan.
“Lampung harus menjadi daerah yang kuat dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi jagung sampai penguatan peternakan rakyat,” pungkasnya. (*)








