Sejarah Berdirinya Vihara Ciang Cin Miao di Kota Bandarlampung

Redaksi

Kamis, 17 Maret 2022 - 20:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tempat Ibadah Tri Dharma Vihara Ciang Cin Miao atau Kelenteng Senopati di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Kota Bandarlampung. Foto: Netizenku.com

Tempat Ibadah Tri Dharma Vihara Ciang Cin Miao atau Kelenteng Senopati di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Kota Bandarlampung. Foto: Netizenku.com

Bandarlampung (Netizenku.com): Pemkot Bandarlampung menetapkan Vihara Ciang Cin Miao sebagai salah satu obyek wisata religius umat Buddha dalam Perda tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2022-2025.

Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Vihara Ciang Cin Miao lebih dikenal dengan sebutan Kelenteng Senopati di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Panjang Utara, Kecamatan Panjang, Kota Bandarlampung.

Vihara Ciang Cin Miao berdiri sejak tahun 1898 oleh Lie Se Sem, seorang pelarian dari Tiongkok Selatan. Tempat peribadatan keluarga Lie Se Sem itu berada di tepi jalan simpang tiga Tugu Kerukunan Umat Beragama.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai tempat peribadatan keluarga, vihara tersebut dikelola secara turun temurun. Saat ini vihara dikelola oleh Jonny Sartius, generasi keempat dari keluarga Lie Se Sem.

“Buyut saya dari Tiongkok Selatan langsung ke Kota Bandarlampung kurang lebih tahun 1890. Di sini jadi tukang kayu. Ini sejarahnya nih masih ada kayunya,” kata Jonny Sartius sambil menunjuk bangku kayu sepanjang 2 meter di dekat pintu masuk utama vihara.

Dia tidak menyebutkan jenis kayu bangku tersebut, namun dari penampang kayu yang halus dengan warna hitam mengkilap menandakan bahwa kayu tersebut jenis kayu keras. Tak heran jika bangku tersebut masih bertahan hingga saat ini.

“Namun, entah kenapa dia bangun kelenteng,” lanjut Jonny sembari tertawa.

Pria berkacamata itu menuturkan wujud Vihara Ciang Cin Miao saat awal didirikan buyutnya hanya berupa rumah kayu kecil beratapkan seng.

“Sekarang tidak ada lagi bangunan awalnya, yang sekarang ini dibangun tahun 1961 dan diresmikan tahun 1963. Terus renovasi atap tahun 1994, dulunya genteng sekarang asbes,” ujar dia.

Saat ini bangunan vihara bergaya Tiongkok kuno itu memiliki luas kurang lebih 1.000 m² dan berdiri di atas lahan seluas 2.500 m².

Awal Mula Nama Ciang Cin Miao

Ketika buyutnya mendirikan bangunan sederhana tempat peribadatan keluarga, kala itu, banyak warga yang memberikan bantuan. Pada masa hidupnya, Lie Se Sem dikenal sebagai seorang Thung Shen.

“Banyak yang minta tolong kepada buyut saya ini karena badannya dimasuki roh seorang jenderal. Masyarakat kemudian memberikan imbalan seikhlasnya,” kata Jonny.

Hal inilah yang mendasari buyutnya memberikan nama Vihara Ciang Cin Miao, Ciang Cin artinya jenderal dan Miao artinya tempat ibadah Tri Dharma.

Ketika memasuki bangunan vihara, di dua daun pintu utama setinggi dua meter terdapat lukisan dewa perang Tiongkok, kemudiaan pengunjung akan disambut sebuah patung dewa perang berwarna kuning keemasan setinggi kurang lebih 30 cm.

Sejarah Berdirinya Vihara Ciang Cin Miao di Kota Bandarlampung
Lukisan karya seniman asal Singapura yang mengisahkan Samkok atau Kisah Tiga Negara di bagian atas pintu masuk utama Vihara Ciang Cin Miao. Foto: Netizenku.com

Di bagian atas pintu utama tersebut, terdapat lukisan seniman asal Singapura yang mengisahkan Samkok atau Kisah Tiga Negara yang melegenda.

“Jadi tuan rumah kelenteng ini jenderal, makanya nama Indonesianya Kelenteng Senopati, senopati itu kan panglima,” ujar Jonny.

Perubahan Nama Vihara Ciang Cin Miao Jadi Kelenteng Senopati 

Pemerintah mulai menyematkan nama Kelenteng Senopati sejak tahun 1980. Rezim orde baru yang berkuasa saat itu tidak mengizinkan penggunaan nama Tiongkok.

Bahkan peranakan Tionghoa diwajibkan memakai nama Indonesia. Pun pertunjukan barongsai yang sudah ratusan tahun dilarang. “Karena waktu itu kan gak boleh nama Cina,” kata Jonny.

Di era Reformasi, ketika Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi Presiden RI keempat, proses asimilasi yang dipaksakan rezim sebelumnya dihilangkan.

Warga peranakan Tionghoa di Indonesia juga diizinkan merayakan Tahun Baru Imlek.

Namun nama Kelenteng Senopati sudah terlanjur dikenal oleh masyarakat luas. Pada 2018, Vihara Ciang Cin Miao terdaftar sebagai tempat ibadat agama Buddha dengan nama Vihara Senapati di Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung.

“Ide saya waktu itu, kenapa gak diubah lagi ke TITD Ciang Cin Miao karena kan sekarang sudah bebas,” ujar Jonny.

Butuh Perhatian Pemkot Bandarlampung

Sebagai salah satu tempat peribadatan umat Buddha tertua di Kota Bandarlampung, selain Vihara Thay Hin Bio di Teluk Betung, Vihara Ciang Cin Miao dengan arsitektur Tiongkok kuno memiliki daya tarik tersendiri sebagai obyek wisata.

Jonny mengatakan sebelum pandemi Covid-19, Vihara Ciang Cin Miao selalu ramai pada saat perayaan Imlek, 24 jam nonstop. Pada hari-hari biasa, vihara tersebut juga ramai dikunjungi warga luar Provinsi Lampung, seperti Palembang dan Tangerang.

Dia mengaku tidak mengetahui sama sekali jika vihara keluarganya ditetapkan sebagai obyek wisata dalam Perda Kota Bandarlampung tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah Tahun 2022-2025.

“Tidak ada koordinasi dari Pemkot Bandarlampung, nggak ngerti, saya aja baru tahu ini,” kata dia tertawa.

Meski demikian, Jonny tidak merasa keberatan, dirinya berharap Pemkot Bandarlampung bisa memberikan perhatian lebih lagi dengan membantu pengurusan izin sertifikat tempat ibadah untuk Vihara Ciang Cin Miao.

“Sertifikat tempat ibadah itu belum ada, saya coba mengajukan, lagi tanya biayanya berapa, harusnya gratis ya,” tutup dia sembari tersenyum. (Josua)

Berita Terkait

Pompa Air di Perum Bukit Beringin Raya Rusak, Kadis Perkim Minta PT Sinar Waluyo Tanggung Jawab
Kwarda Lampung Sambut Pembentukan Racana UIM
Disdikbud Lampung Kembali Gelar UKG
Yuliana Safitri, Kontraktor Perempuan Lampung yang Kini Menjalani Penahanan, Tetap Teguh Menghadapi Proses Hukum
Fadli Zon Jadikan Lampung Panggung Pernyataan Pentingnya Pelestarian Budaya
Kampanye Anak Indonesia Hebat, Purnama Wulan Sari Mirza Ajak Perkuat Pendidikan Karakter Anak Usia Dini
KPK dan DPRD Lampung Perkuat Sinergi Pencegahan Korupsi
DPP ABRI Gelar Pelatihan Paralegal Nasional 2025

Berita Terkait

Kamis, 26 Februari 2026 - 22:18 WIB

Jaksa Tuntut Dua Terdakwa Korupsi Kegiatan Bimtek Aparatur Desa Pringsewu

Rabu, 25 Februari 2026 - 21:13 WIB

Safari Ramadhan Jadi Momentum Sinergi Pemprov dan Pringsewu

Selasa, 24 Februari 2026 - 19:30 WIB

Pemkab Pringsewu Awali Safari Ramadan 2026 di Kecamatan Ambarawa

Senin, 23 Februari 2026 - 19:27 WIB

Polres Pringsewu Raih Penghargaan Perlindungan Anak

Sabtu, 21 Februari 2026 - 08:03 WIB

Bupati Pringsewu Paparkan Capaian Satu Tahun Kepemimpinan pada Buka Bersama Insan Pers

Jumat, 20 Februari 2026 - 06:46 WIB

Dikira Boneka, Jasad Remaja Ditemukan di Sungai Way Tebu

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:55 WIB

Berkas Lengkap, Tersangka Jambret Di pringsewu Dilimpahkan Polisi ke JPU

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:54 WIB

Pemkab Pringsewu dan BAPANAS Gelar Rakor Satgas Saber Harga

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Wabup Tubaba Ajak Warga Perkuat Sedekah dan Kepedulian Lingkungan

Rabu, 25 Feb 2026 - 22:31 WIB