Lampung Harus Tegas Jaga Harga Beras di Bawah HET!

Ilwadi Perkasa

Jumat, 26 September 2025 - 14:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi IV DPR RI, Irham Jafar Lan Putra dan Dwita Ria Gunadi, Kamis (11/09) melakukan monitoring stok dan harga pangan, khususnya  beras, Kamis, 11 September 2025

Anggota Komisi IV DPR RI, Irham Jafar Lan Putra dan Dwita Ria Gunadi, Kamis (11/09) melakukan monitoring stok dan harga pangan, khususnya beras, Kamis, 11 September 2025

Lonjakan harga beras di sejumlah kabupaten di Lampung menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah. Jika tidak segera dikendalikan, harga beras berpotensi bergejolak menembus Harga Eceran Tertinggi (HET) dan langsung menghantam daya beli masyarakat.

***

Data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) menunjukkan Indeks Perkembangan Harga (IPH) Lampung pada minggu ketiga September 2025 naik 0,43 persen. Kenaikan terutama dipicu oleh cabai merah, daging ayam ras, dan terutama beras.

Di Tanggamus harga beras melonjak hingga 5 persen, disusul Lampung Tengah (4,40%), Tulang Bawang Barat (2,19%), Lampung Barat (0,40%), dan Tulang Bawang (0,38%). Angka ini jelas menegaskan gejolak harga yang tidak bisa dianggap sepele.

Ironisnya, kenaikan harga terjadi pada saat stok beras di Lampung masih cukup besar. Bahkan di 15 gudang Bulog, masih tersimpan sekitar 29 ribu ton beras impor asal Pakistan, Thailand, dan Myanmar dari pengadaan tahun 2024. Perum Bulog mencatat distribusi beras SPHP telah mencapai 8,6 juta kilogram.

Baca Juga  Lampung Perkuat Pengembangan Bawang Putih Dukung Swasembada Nasional 2029

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Stok tersebut sebagian besar sudah digelontorkan untuk program Bantuan Pangan maupun outlet Rumah Pangan Kita (RPK). Artinya, jika distribusi dijalankan lebih ketat dan tepat sasaran, tekanan harga seharusnya bisa ditekan.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPR RI, Irham Jafar Lan Putra dan Dwita Ria Gunadi, saat meninjau Gudang Bulog Campang Raya dan Pasar Kangkung, menemukan beras impor lama yang diserang kutu. Meski Bulog memastikan kualitas tetap layak konsumsi, temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan stok dan distribusi yang serius.
Sebab, pasar tidak hanya membutuhkan ketersediaan, tetapi juga kualitas yang terjamin untuk mengerem gejolak harga.

Baca Juga  Gubernur Lampung Dorong BUM Desa Jadi Penggerak Hilirisasi dan Ekonomi Desa

Kondisi anomali ketika stok melimpah namun harga justru melampaui HET tak lepas dari kebijakan yang terlalu kaku dalam penyaluran. Penyaluran beras murah (SPHP) oleh Bulog masih bergantung penuh pada penugasan Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang ketat mengatur mekanisme buka-tutup distribusi. Akibatnya, ruang gerak daerah untuk meredam gejolak harga menjadi terbatas.

Solusi yang ditawarkan, Lampung harus berani meminta tambahan pasokan SPHP dari Bapanas, terutama bagi wilayah dengan kerawanan inflasi tinggi. Di sisi lain, Satgas Pangan Mabes Polri sudah memberi sinyal peringatan bahwa distribusi beras bantuan, SPHP, MinyaKita, hingga gula harus diawasi ketat.

Pengecekan lapangan dan penindakan tegas akan dilakukan terhadap setiap bentuk penyimpangan. Di Lampung, Satgas Pangan juga diharapkan semakin menggencarkan operasi pencegahan “mengunjal” gabah dan beras ke luar provinsi.

Baca Juga  Pemprov Lampung dan Kejati Perkuat Sinergi Kawal Program Pemerintah dan Pelayanan Publik

Namun tantangan Lampung tidak berhenti pada beras. Early Warning System (EWS) Kementerian Pertanian mencatat defisit besar untuk bawang merah (2.499 ton), cabai besar (1.530 ton), dan cabai rawit (3.421 ton). Defisit ini jelas berpotensi memperparah inflasi pangan. Karena itu, pemerintah daerah perlu segera menggerakkan BUMD, melibatkan offtaker lokal, serta mendorong akses pembiayaan petani agar produksi tetap berjalan dan distribusi terkendali.

Lampung tidak boleh lengah. Stok berlimpah akan sia-sia bila distribusi bocor, pengawasan lemah, dan operasi pasar tidak menyentuh konsumen. Lonjakan harga beras hanya akan menjerat rakyat kecil dan memperlebar jurang inflasi. Karena itu, Forkopimda, pemerintah daerah, Bulog, dan aparat hukum harus bersatu menjalankan komitmen: menjaga harga beras tetap di bawah HET, dengan langkah nyata, tegas, dan konsisten.*

Berita Terkait

Marindo Lantik Gadriyanto Abung sebagai Kasatpol PP dan Lukman Pura Direktur RSUDAM
Pemprov Lampung Dorong Penguatan Kepemimpinan Perempuan melalui Kaderisasi Bandarlampung —
Lampung Raih Penghargaan BSSN, 100 Persen Kabupaten/Kota Miliki TTIS Teregistrasi
Pemprov Lampung Dorong ITERA Jadi Pusat Inovasi dan Hilirisasi Komoditas Unggulan
KPK Beri Penghargaan kepada Lampung atas Penguatan Pendidikan Antikorupsi
Limbah PT Indo Thai Coco Diduga Cemari Sumur Warga, DPRD Lampung Desak DLH Bertindak
Nobar Final FIFA ASEAN Cup 2026, Pemprov Lampung Rayakan Kemenangan Timnas Indonesia
Manajer Minisocer PWI Lampung Dorong Tim Perkuat Fisik dan Mental Jelang Porwanas

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:21 WIB

Marindo Lantik Gadriyanto Abung sebagai Kasatpol PP dan Lukman Pura Direktur RSUDAM

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:18 WIB

Pemprov Lampung Dorong Penguatan Kepemimpinan Perempuan melalui Kaderisasi Bandarlampung —

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:14 WIB

Lampung Raih Penghargaan BSSN, 100 Persen Kabupaten/Kota Miliki TTIS Teregistrasi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:11 WIB

Pemprov Lampung Dorong ITERA Jadi Pusat Inovasi dan Hilirisasi Komoditas Unggulan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:09 WIB

KPK Beri Penghargaan kepada Lampung atas Penguatan Pendidikan Antikorupsi

Senin, 5 Oktober 2026 - 23:28 WIB

Nobar Final FIFA ASEAN Cup 2026, Pemprov Lampung Rayakan Kemenangan Timnas Indonesia

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Manajer Minisocer PWI Lampung Dorong Tim Perkuat Fisik dan Mental Jelang Porwanas

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:55 WIB

RSUDAM Pastikan Pembayaran Remunerasi Pegawai Sesuai Verifikasi

Berita Terbaru