Sayonara

Hendri Setiadi

Jumat, 5 Januari 2024 - 18:11 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gambar hanya ilustrasi.

Gambar hanya ilustrasi.

Bandarlampung (Netizenku.com): Dulu, pelajar masih mengenal istilah mengarang bebas. Kegiatan ini diselipkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Sekarang, kebiasaan itu sudah tak diberi tempat lagi. Ruang-ruang kelas seperti hampa tanpa imaji. Tak berwarna. Monokrom semata. Tinggal tersisa rumus-rumus baku dan beban nilai. Untuk kemudian murid dilabeli sebagai murid pandai atau murid yang “perlu belajar lebih giat lagi”.

Kini, pelajar SMA/SMK yang melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi tak jarang tergagap-gagap mendapati sistem pembelajaran yang menuntut pengembangan logika dan penalaran. Biasanya itu dituangkan dalam bentuk tugas penulisan. Seperti membuat paper, misalnya. Atau skripsi di penghujung masa kuliah.

Apa pula hubungan antara kegiatan mengarang bebas dan “momok” menulis paper saat kuliah? penulis beranggapan keduanya sangat berhubungan. Sebab akar dari kedua kegiatan tersebut berpangkal pada titik yang sama, yakni kemampuan merumuskan pikiran dan menuangkannya dalam bentuk tulisan (teks).

Baca Juga  Belajar Menambal Kredibilitas dari The New York Times

Itu pula yang menjadi pertanyaan besar penulis, mengapa aktivitas mengarang bebas nyaris tak ditemui lagi di sekolah. Apakah lantaran sebutannya yang dianggap tidak intelek. Hanya “mengarang” lalu dibubuhi embel-embel “bebas” pula? makin sempurnalah kadar tidak ilmiah-nya.

Sementara identitas sekolah mungkin sudah mengalami pergeseran pemaknaan. Dimana lembaga sekolah mesti mempresentasikan aura yang kental kadar intelektualitasnya. Itu ditandai lewat simbol-simbol nilai tinggi dari mata pelajaran “utama”. Makin moncer nilai-nilai itu semakin bikin mengkilap reputasi sekolah. Dan mengarang bebas dianggap tak memberi kontribusi dalam mencapai predikat tersebut. Maka say goodbye pada kegiatan mengarang bebas.

Apakah itu merupakan langkah cerdas?

Kalau jawabannya, “Yes, itu kebijakan tepat. Maka perlu dilanggengkan”. Lantas apa sebutannya bagi sekolah-sekolah di negara maju yang masih -bahkan menaruh perhatian besar- menerapkan aktivitas mengarang bebas yang mereka sebut dengan istilah low stakes writing.

Baca Juga  Menerka Arah Media Massa, Mau Untung Malah Buntung

Low stakes writing merupakan jenis tugas menulis yang tidak dinilai atau tidak menghitung nilai siswa. Kegiatan ini bahkan diterapkan semenjak di sekolah-sekolah dasar pada negara Amerika Serikat, Inggris dan Australia. Aktivitas ini diyakini dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan menulis. Guru tidak terlalu menekan tulisan siswa harus benar (dalam penggunaan tanda baca dan huruf kapital) atau mesti mendapatkan nilai menulis yang bagus.

Dengan demikian siswa memiliki kebebasan membuat tulisan sesuai pemikirannya. Sehingga akan lebih antusias melakukan eksperimen ke berbagai gaya dan genre tulisan. Seiring waktu para siswa bakal menemukan jenis tulisan yang disukai dan kuasai. Bersamaan dengan itu proses mengembangkan kecintaan membaca ikut tumbuh. Sungguh, sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui.

Hanya saja, upaya di negara-negara maju itu mungkin bukan sebagai kiblat dunia pendidikan kita. Para pengampu dunia pendidikan kita juga bisa bilang, sebagai negara merdeka dan menganut kurikulum belajar berjuluk merdeka (pula), kita tentu tak perlu selalu mengekor atau mengadopsi segala hal dari barat.

Baca Juga  Balada Gelar Doctor Honoris Causa di Desa Konoha

Terlebih, para perumus kebijakan dan guru-guru kita, bila mengutip pengertian kurikulum merdeka, telah diberi keleluasaan untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik.

Jadi jangan sekali-kali pernah meragukan kemujaraban kebijakan pendidikan yang ada sekarang. Itu semua telah dirumuskan oleh para pakar, lho. Termasuk ketika guru dengan spirit kebebasan kurikulum merdeka menyingkirkan kegiatan mengarang bebas dari kelas-kelas. Lantaran (agaknya) dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan lingkungan belajar peserta didik.

So, go to hell inspirasi dunia pendidikan barat. Kami punya keyakinan sendiri. Sayonara -selamat tinggal- mengarang bebas. Benar begitu? (*)

Berita Terkait

Generasi Sat-set Wartawan Masa Kini
Menerka Arah Media Massa, Mau Untung Malah Buntung
Belajar Menambal Kredibilitas dari The New York Times
Obrolan Wartawan di Sela Ketupat Lebaran
Wartawan, Storyteller yang Bukan Pengarang Bebas
Merapat ke Markas Tempo
Kita Pernah Punya Wartawan Jihad, Kapan Ada Lagi?
Tak Perlu Kepala Babi dan Bangkai Tikus untuk Membuat Kicep

Berita Terkait

Jumat, 4 April 2025 - 13:34 WIB

Generasi Sat-set Wartawan Masa Kini

Kamis, 3 April 2025 - 14:19 WIB

Menerka Arah Media Massa, Mau Untung Malah Buntung

Selasa, 1 April 2025 - 12:37 WIB

Belajar Menambal Kredibilitas dari The New York Times

Senin, 31 Maret 2025 - 20:48 WIB

Obrolan Wartawan di Sela Ketupat Lebaran

Sabtu, 29 Maret 2025 - 21:45 WIB

Merapat ke Markas Tempo

Jumat, 28 Maret 2025 - 22:47 WIB

Kita Pernah Punya Wartawan Jihad, Kapan Ada Lagi?

Rabu, 26 Maret 2025 - 22:34 WIB

Tak Perlu Kepala Babi dan Bangkai Tikus untuk Membuat Kicep

Senin, 24 Maret 2025 - 05:01 WIB

Kebohongan Resmi dan Keterangan Palsu

Berita Terbaru

(Ilustrasi pinterest)

Celoteh

Generasi Sat-set Wartawan Masa Kini

Jumat, 4 Apr 2025 - 13:34 WIB

(Ilustrasi: ist)

Celoteh

Menerka Arah Media Massa, Mau Untung Malah Buntung

Kamis, 3 Apr 2025 - 14:19 WIB

Buku The New York Times karya Ignatius Haryanto. (foto: koleksi pribadi)

Celoteh

Belajar Menambal Kredibilitas dari The New York Times

Selasa, 1 Apr 2025 - 12:37 WIB

Ketupat (foto: ist)

Celoteh

Obrolan Wartawan di Sela Ketupat Lebaran

Senin, 31 Mar 2025 - 20:48 WIB