Indonesia Bertutur, Mengalami Masa Lalu Menumbuhkan Masa Depan

Redaksi

Senin, 7 Agustus 2023 - 10:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulangbawang Barat (Netizenku.com): Temu Seni Performans, di kawasan Budaya Ulluan Nughik, Kabupaten Tubaba, mulai digelar pada Kamis 29 Agustus 2023 yang lalu. Ini merupakan rangkaian kegiatan Indonesia Bertutur yang memiliki arahan artistik “Mengalami Masa Lalu, Menumbuhkan Masa Depan”.

Mengambil Subak sebagai dasar inspirasi penciptaan, puncak kegiatan Indonesia Bertutur akan digelar di Bali pada tahun 2024.

Bagi Direktur Artistik Indonesia Bertutur Melati Suryodarmo, Subak bukan semata bentuk terasering, melainkan spirit Trihita Karana yang memiliki makna relasi hubungan antara manusia dan Sang Pencipta. Manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan manusia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Melibatkan 19 seniman dari seluruh Indonesia, program ini juga melibatkan Afrizal Malna dan Marintan Sirait sebagai fasilitator. Indonesia Bertutur merupakan program Direktorat Perfilman, Musik dan Media Kemendikbud Ristek Republik Indonesia. Temu Seni dirancang sebagai laboratorium bersama bagi para praktisi seni kontemporer, kegiatan ini bukan rehearsal bagi karya “jadi”.

Para peserta dipilih berdasarkan rekam jejak dan kesungguhan untuk bertemu serta berbagi pengalaman dan metode praktik mereka dalam menguatkan ekosistem seni yang mandiri dan jejaring kesenian di tanah air.

Para seniman terpilih adalah, Kiki Windarti, John Heryanto (Tubaba) Luna Dian Setya, Sekar Tri Kusuma (Solo), Syamsul Arifin (Sampang), Robby Ocktavian (Samarinda), Ayu Permata Sari ( Lampung Utara), Syahrullah (Samarinda), Shuko Sastro Gending (Magelang), Alghifahri Jasin (Makassar), Impoe (Tuban), Hanif Alghifary (Bogor), Tamarra (Yogyakarta), Riyadhus Salihin (Bandung), Susan ( Lampung Barat), Gilang Anom Manapu Manik (Bandung), Anisa Nabilla Khairo (Padang), Soemantri Gelar (Jakarta) dan Enny Asrinawati (Depok).

Baca Juga  Ratusan Warga Buay Bulan Bersiap Sampaikan Aspirasi, Konflik HGU PTPN 1 Masuk Babak Baru

Seniman terpilih telah melakukan residensi mandiri di Cagar Budaya atau Warisan Budaya Tak Benda di wilayah masing-masing, dengan harapan para seniman bisa menciptakan karya berbasis riset dan juga memiliki materi sebagai bahan bandingan selama Temu Seni di Tubaba.

Rangkaian kegiatan berupa presentasi hasil riset, diskusi kelompok, kunjungan situs ( Pugung Raharjo dan Las Sengoq), sarasehan dan presentasi akhir yang bisa disaksikan oleh publik.

Pada sarasehan yang digelar hari Kamis 3 Agustus, dengan pembicara Umar Ahmad ( pendiri Menuju Tubaba) dan St Sunardi (Univ Sanata Dharma), terungkap beberapa hal penting yaitu, Umar memaparkan bagaimana Tubaba bertumbuh dari hasil pendengarannya berdasarkan mitos-mitos lama: Ulluan Nughik, Las Sengoq dan Penyiloan.

Bagi Umar mitos-mitos tersebut bukanlah sesuatu tanpa makna. Dengan mempertimbangkan konteks pada awal mula Tubaba dibangun, tepatnya saat Tubaba dijuluki sebagai kota “Bukan-bukan”: bukan lintasan dan bukan tujuan. Tapi melalui mitos, dan pertemuannya dengan banyak orang, Umar membuat mitos-mitos tersebut menjadi visi yang produktif.

Kemudian, St Sunardi, mengapresiasi apa yang telah dilakukan Umar. Bagi filsuf yang berasal dari Yogyakarta, Tubaba bukanlah sekedar tempat, melainkan ruang yang memiliki energi, karena di Tubaba kerja kebudayaan bukan semata mengutamakan aspek wadahnya, melainkan aspek dinamik, yakni proses menjadinya.

Selanjutnya, Nardi mengilustrasikan suatu karya seni dari maestro Laeonardo Da Vinci, yang mencipta karya bukan semata mimesis satu benda melainkan mengambil spirit burung untuk penciptaan karyanya. Demikian pula apa yang terjadi di Tubaba, kerja kebudayaan di Tubaba adalah mengambil mitos bukan pada formatnya, melainkan pada “keapaan” dari sebuah mitos.

Baca Juga  Cegah Bullying Sejak Bangku SD, Tubaba Tanamkan Nenemo pada Pelajar

Mitos secara singkat bisa dipahami sebagai cerita tentang sesuatu yang tidak bisa diceritakan secara langsung.
Narasi Umar, memang menjadi alasan bagi Afrizal Malna yang menyatakan bahwa pilihan Tubaba sebagai lokasi Temu Seni Indonesia Bertutur memang diawali dengan memperhatikan sejarah pertumbuhan wilayah Tubaba yang tidak memiliki apa-apa sebagai identitas pengikat.

Sejarah Lampung yang dipenuhi mitos, Tubaba menggali bahasa Lampung sebagai sumber arkeologi identitas. Kata-kata yang berasal dari cerita lisan: Uluan Nughiq, Las Sengoq, maupun Tiyuh, dijadikan pijakan untuk membuat mitos baru sebagai “identitas masa depan” Tubaba.

Temu Seni Performans di Tubaba memerlukan spektrum tema yang bisa jadi pijakan bersama. Bagaimana kita menggunakan mitos sebagai modus penciptaan dan mengapa.

Afrizal melanjutkan, bahwa Joseph Campbell melihat mitos sebagai model pengetahuan yang membentang dalam sejarah peradaban yang memiliki kesamaan, seperti mitos Dewi Kesuburan atau Dewa Kematian. Dan mempertanyakan apakah ada rahasia dalam pikiran kita. Dalam Temu Seni Performans, mitos dilihat sebagai salah satu metode penciptaan, membuat jembatan baru antara data (dari sumber riset residensi), tubuh, ruang, dan imajinasi.

Melalui fokus tentang Mitos, peserta diharapkan aktif melakukan pengembangan gagasan yang memanfaatkan warisan cagar budaya melalui residensi mandiri dan dalam laboratorium. Sehingga pada akhir sarasehan, St Sunardi menekankan pentingnya tiga hal terkait Tubaba dan Mitos. Pertama, betapa pentingnya melihat kebudayaan sebagai energi, bukan semata aspek wadahnya, kedua, melalui mitos kita bisa membentuk identitas baru, ketiga ingatan yang kita miliki galibnya bukan semata rekoleksi, atau kumpulan atas peristiwa, melainkan sebagai kontraksi atau pemadatan bagi energi kreatif, dari situ kita berharap karya seni bukan semata pengulangan (repetisi). Sembari berharap, apa yang telah terjadi di Tubaba bisa menular pada kota-kota lain.

Baca Juga  Tubaba Gandeng Tel-U, Sulap Sampah dan ZISWAF Jadi Kekuatan Ekonomi Berbasis AI

Pada presentasi karya Performans yang berlangsung pada siang hingga maghrib di hari yang sama ( 3/8), sembilan belas performer menampilkan karya di empat belas lokus di Ulluan Nughik. Selain menampilkan karya secara individu, beberapa seniman menampilkan karya secara bersama. Demikian yang dilakukan oleh Riyadhus Salihin, Anisa Nabilla Khairo, Robby Oktavian, Luna Dian Setyo, Syamsul Arifin, Kiki Windarti dan Gilang Manapu Manik.

Mengambil lokus di area kebun karet dan sungai, setiap performer secara intens melakukan aksinya secara mandiri: Syamsul Arifin mengenakan jas terus menerus melahap makanan tanpa henti di atas meja berwarna merah, Riyadh terus menyadap karet dari bahan jadi, sementara Gilang bersenandung dengan suara besar dengan kostum defamiliar, seorang performer lain berbaring telungkup di sungai.

Dari relasi peristiwa yang dimunculkan oleh setiap performer, karya ini bisa juga dibaca sebagai upaya mencipta satu sistem mitos baru. Seperti terungkap di dalam deskripsi karya mereka, Mitos “Sasada Sere” adalah praktik penciptaan mitos baru untuk melindungi penderes karet atau perkebunan karet di Tubaba dari ancaman inflasi dan permainan harga karet, sekaligus cara/rasa syukur terhadap karet, dengan cara menyarikan ragam ritual/upacara dari Jawa, Sunda, Asemik dan Lampung. Dari karya ini kita bisa mengetahui bahwa para seniman yang telah melakukan kerja riset secara mandiri, bisa secara leluasa berkolaborasi, dan secara adaptif merespon hal yang dekat dan kontekstual. (Arie/Leni)

Berita Terkait

Kwarcab Tubaba Buka KMD Angkatan X 2026, 75 Peserta Disiapkan Jadi Pembina Pramuka Berkualitas
Ribuan Warga Tubaba Salat Istisqa, Doakan Hujan Segera Turun
Pemkab Tubaba Cari Formula Pembiayaan Siltap Aparatur Tiyuh di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemkab Tubaba Diminta Perketat Penganggaran Belanja Hibah dalam APBD 2027
TP PKK Lampung Canangkan Desa TAPIS di Tubaba, Perkuat Pemberdayaan Keluarga
Pengurus Baru Pramuka Tulang Bawang Udik Resmi Dilantik, Ini Pesan Tegas Ketua Kwarcab Tubaba
Sekda Tubaba Tekankan Ketelitian Belanja Hibah dalam Penyusunan APBD 2027
DPRD Tubaba Sahkan Raperda APBD-P 2026, Busroni Tegaskan Pengawasan Tak Berhenti di Paripurna

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:53 WIB

Cegah Rabies, Petugas Jemput Bola Vaksinasi Hewan Peliharaan di Lampung Selatan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Sampah Organik Lampung Dibidik Jadi Pupuk, Dorong Ekonomi Pertanian

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:40 WIB

Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol MTI Resmi Dikukuhkan di Lampung

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 21:21 WIB

RSUDAM Siapkan Fertility Center, Perkuat Layanan Kesehatan Reproduksi

Jumat, 2 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Batin Wulan Dorong Percepatan Sertifikasi Halal bagi UMKM Lampung

Kamis, 1 Oktober 2026 - 17:33 WIB

PERABOI Gelar Bakti Sosial Deteksi Dini Kanker Payudara di RSUDAM

Kamis, 1 Oktober 2026 - 15:36 WIB

DPRD Lampung dan Disnaker Lampung Siap Tindaklanjuti Aspirasi FSPMI

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:39 WIB

Marindo: Nilai Pancasila Harus Menjadi Landasan Pembangunan di Lampung

Berita Terbaru