Gabah Lampung Tembus Rp8.000, Imelda Minta Distribusi ke Luar Daerah Diawasi Ketat

Tauriq Attala Gibran

Rabu, 2 September 2026 - 22:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga gabah di Lampung yang melonjak hingga menembus kisaran Rp8.000 per kilogram ajadi alarm serius bagi rantai pasok pangan daerah. Di tengah posisi Lampung sebagai salah satu sentra produksi padi nasional, kenaikan harga bahan baku justru berpotensi merembet ke harga beras yang harus ditanggung masyarakat.

Lampung (Netizenku.com): Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Imelda, S.H., menilai persoalan tersebut tidak bisa hanya dilihat sebagai dinamika harga di tingkat petani. Pemerintah juga harus memastikan kebijakan distribusi gabah ke luar daerah berjalan efektif, terukur, dan tidak mengganggu kebutuhan pangan masyarakat Lampung.

Hal itu disampaikan Imelda usai rapat dengar pendapat Komisi II DPRD Lampung bersama Bulog, Perpadi, kelompok tani, TNI-Polri serta organisasi perangkat daerah terkait, Rabu (2/9/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Imelda mengatakan tingginya harga gabah harus segera dibaca sebagai persoalan serius dalam tata niaga pangan. Sebab, jika harga bahan baku terus meningkat sementara harga beras di tingkat konsumen dikendalikan melalui batas harga pemerintah, mata rantai usaha penggilingan dan perdagangan beras akan semakin tertekan.

“Kalau harga gabah sudah tinggi seperti ini, tentu harus kita lihat secara menyeluruh. Jangan sampai petani memang mendapatkan harga bagus, tetapi di sisi lain harga beras menjadi semakin tidak terjangkau masyarakat,” katanya.

Baca Juga  Soroti Hibah Rp35 Miliar untuk Kejati, DPRD Lampung Desak Pemprov Utamakan Kepentingan Masyarakat

Menurutnya, pemerintah harus berada di tengah untuk menjaga keseimbangan kepentingan petani, pengusaha penggilingan, pedagang dan konsumen.

Ia menilai kenaikan harga gabah tidak boleh diselesaikan dengan pendekatan parsial. Pemerintah harus memastikan pasokan untuk kebutuhan Lampung aman sebelum gabah diperbolehkan mengalir ke provinsi lain.

Hal tersebut berkaitan dengan aturan pembatasan distribusi gabah keluar Lampung yang mensyaratkan adanya manifest dari pemerintah daerah.

Imelda meminta aturan tersebut tidak berhenti sebagai dokumen administratif semata. Pemerintah harus memastikan mekanisme pengawasan benar-benar berjalan di lapangan.

“Kalau memang ada aturan bahwa gabah yang keluar daerah harus melalui manifest dan harus dipastikan kebutuhan Lampung aman terlebih dahulu, maka pertanyaannya adalah sejauh mana aturan itu dijalankan dan diawasi,” tegasnya.

Menurut Imelda, kondisi harga gabah yang sudah berada di kisaran Rp8.000 per kilogram menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali tata niaga gabah Lampung.

Ia mengingatkan, Lampung tidak boleh kehilangan kendali atas komoditas pangannya sendiri hanya karena tingginya permintaan dari luar daerah.

Baca Juga  ANTARA Dukung Penguatan Kerja Sama Media Asia-Pasifik Hadapi Disrupsi Digital

“Jangan sampai Lampung sebagai daerah penghasil justru kesulitan mendapatkan beras karena gabahnya lebih banyak mengalir keluar. Kita harus pastikan kebutuhan masyarakat Lampung aman dulu,” ujarnya.

Namun, Imelda juga mengingatkan agar kebijakan pembatasan distribusi tidak dilakukan secara serampangan. Menurutnya, petani tetap harus memperoleh harga yang layak atas hasil panennya.

Karena itu, pemerintah perlu menghitung secara cermat berapa kebutuhan gabah Lampung, berapa stok yang tersedia, berapa kebutuhan penggilingan dan berapa volume yang secara aman dapat didistribusikan keluar daerah.

“Jangan sampai petani dirugikan karena harga ditekan. Tetapi jangan juga masyarakat menjadi korban karena harga beras melonjak. Pemerintah harus mencari titik keseimbangan,” katanya.

Imelda menilai persoalan harga gabah juga menunjukkan adanya mata rantai tata niaga yang perlu dibenahi. Ketika harga gabah di tingkat lapangan melonjak, sementara harga beras memiliki batas tertentu, pelaku usaha penggilingan berada dalam posisi sulit.

Jika kondisi tersebut terus dibiarkan, kata dia, bukan tidak mungkin pelaku usaha mengurangi penyerapan gabah karena secara hitungan bisnis tidak lagi menguntungkan.

Baca Juga  Imelda Dorong Kepastian Usaha Peternak Telur

“Kalau penggilingan tidak mampu membeli, petani juga akan kesulitan menjual. Sebaliknya, kalau harga gabah terlalu tinggi, konsumen yang akhirnya terbebani. Ini harus dicari solusinya bersama,” jelasnya.

Karena itu, Imelda mendorong pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota, Bulog, Perpadi dan seluruh pemangku kepentingan membangun satu basis data yang sama mengenai produksi, stok, kebutuhan dan arus distribusi gabah.

Menurutnya, data tersebut penting agar keputusan membuka atau membatasi distribusi gabah ke luar Lampung tidak dilakukan berdasarkan perkiraan.

“Kita harus berbicara berdasarkan data. Berapa produksi kita, berapa kebutuhan masyarakat, berapa stok yang ada dan berapa yang boleh keluar. Jangan sampai kebijakannya baru dibuat setelah harga terlanjur melonjak,” katanya.

Imelda juga meminta pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap kondisi harga gabah di Lampung. Sebab, pergerakan harga di tingkat produsen akan sangat menentukan harga beras yang dikonsumsi masyarakat.

“Ini bukan hanya persoalan petani atau pengusaha penggilingan. Ini menyangkut ketahanan pangan dan daya beli masyarakat. Karena itu pemerintah harus hadir dan jangan menunggu sampai terjadi kelangkaan,” pungkasnya.  (*)

Berita Terkait

PDI Perjuangan Lampung Selatan Bagikan Masker dan Bentuk Tim Mitigasi Gunung Anak Krakatau
ANTARA Dukung Penguatan Kerja Sama Media Asia-Pasifik Hadapi Disrupsi Digital
Warga Bandar Lampung Diimbau Waspada Paparan Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
BULOG Turun Serentak ke Pasar, Stok Beras Lampung Capai 264.884 Ton
Pemprov Lampung dan Kejati Perkuat Sinergi Kawal Program Pemerintah dan Pelayanan Publik
Peduli TB Lampung Diluncurkan, Percepat Penemuan Kasus Menuju Eliminasi TB 2030
DPRD Lampung Soroti SLHS Dapur MBG
Mendes PDT Tegaskan KDMP Berjalan, Finalisasi 35 Ribu Gudang dan Gerai

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 19:14 WIB

Mendes PDT Soroti Kebun Anggur BUMDes Merak Berseri di Lampung Selatan

Minggu, 6 September 2026 - 18:38 WIB

Komisi X DPR RI Dorong Revitalisasi Sekolah dan Penyelesaian Status Guru PPPK

Minggu, 6 September 2026 - 18:21 WIB

Komisi X DPR RI Dorong Pemerataan Sarana Pendidikan melalui Program Revitalisasi Sekolah

Minggu, 6 September 2026 - 18:16 WIB

Gunung Anak Krakatau Level III, Pemkab Lampung Selatan Imbau Warga Tetap Tenang dan Waspada

Sabtu, 5 September 2026 - 14:44 WIB

Seminar Al-Aqsha di Lampung Dorong Generasi Muda Temukan Peran Nyata untuk Palestina

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:45 WIB

PWI Lampung Selatan Audiensi dengan DPRD, Bahas HPN dan Porwanas 2027

Senin, 24 Agustus 2026 - 19:57 WIB

Kapolres Lamsel Komitmen Perkuat Keamanan untuk Dukung Pariwisata dan Kesejahteraan Masyarakat

Jumat, 21 Agustus 2026 - 21:30 WIB

PWI Lampung Selatan Dukung Pemanfaatan IKD

Berita Terbaru

Lampung Selatan

Mendes PDT Soroti Kebun Anggur BUMDes Merak Berseri di Lampung Selatan

Minggu, 6 Sep 2026 - 19:14 WIB