Pemerintah Provinsi Lampung menegaskan komitmennya menjaga dan memulihkan ekosistem pesisir melalui gerakan penanaman mangrove yang dilakukan secara berkelanjutan.
Lampung (Netizenku.com): Komitmen tersebut diwujudkan melalui penanaman 25.000 bibit mangrove yang dipimpin Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela di Marines Ecopark, Pesawaran, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Provinsi Lampung, PT Angkasa Pura Indonesia, Golden Tulip Springhill, Bank BRI, PLN, Pertamina, Brigif 4 Mar/BS, serta berbagai pihak lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penanaman 25.000 bibit mangrove itu merupakan bagian dari program Road to 100,000 Mangrove yang diselenggarakan Golden Tulip Springhill Bandar Lampung.
Memasuki tahun ketiga pelaksanaan, program tersebut telah menanam 50.000 bibit mangrove pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan penambahan 25.000 bibit pada tahun ini, total mangrove yang telah ditanam mencapai 75.000 bibit, dengan target 100.000 bibit pada tahun berikutnya.
Dalam sambutannya, Jihan mengapresiasi konsistensi penyelenggara dan seluruh pihak yang terus melanjutkan gerakan penanaman mangrove. Menurutnya, pelestarian lingkungan membutuhkan komitmen jangka panjang serta kolaborasi dari berbagai pihak.
“Menjaga alam itu tidak hanya dilakukan tahun kemarin saja, bulan kemarin saja, tetapi setiap waktu, setiap bulan, setiap tahun, sepanjang waktu adalah kewajiban kita semua untuk bisa menjaga alam,” ujar Jihan.
Ia mengatakan pelestarian lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan kewajiban bersama seluruh masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam dan memanfaatkan sumber daya alam.
Jihan menyebut Lampung memiliki potensi kelautan dan pesisir yang besar. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, wilayah Lampung memiliki perairan sekitar 24.820 kilometer persegi, wilayah pesisir hampir 450.000 hektare, garis pantai lebih dari 1.000 kilometer, serta 132 pulau kecil.
Potensi tersebut, kata dia, perlu dikelola dengan tetap memperhatikan kelestarian ekosistem laut dan pesisir.
“Ketika kita bicara mengenai masa depan Lampung, kita tidak boleh hanya melihat apa yang ada di daratan saja, tetapi kita harus melihat bagaimana laut itu bukan hanya dieksploitasi isinya saja, tetapi kita juga perlu memikirkan bagaimana keberlanjutannya,” katanya.
Menurut Jihan, ancaman bencana seperti banjir, abrasi, hingga tsunami yang pernah melanda wilayah Lampung Selatan dan Pesawaran menjadi pengingat pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Mangrove memiliki fungsi ekologis, antara lain membantu meredam gelombang laut, mengurangi abrasi, serta menjaga habitat biota laut yang mendukung kehidupan masyarakat pesisir dan nelayan.
Jihan menekankan keberhasilan penanaman mangrove tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari perawatan dan pemeliharaan agar tanaman tersebut dapat tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Karena menanam adalah awal, maka merawat adalah komitmen, dan menjaga adalah tanggung jawab,” tegasnya.
Ia berharap bibit mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan maupun perekonomian masyarakat. Kawasan mangrove juga dinilai berpotensi dikembangkan sebagai sarana edukasi lingkungan dan ekowisata berbasis alam.
“Menanam pohon artinya menurut saya adalah memberikan oksigen bagi anak-anak dan juga generasi masa depan yang akan datang. Karena alam yang kita nikmati hari ini adalah sumber daya yang kita pinjam, dan sebagaimana yang kita pinjam, maka kita harus kembalikan dalam keadaan baik pula,” ujar Jihan.
Jihan berharap gerakan penanaman mangrove terus berlanjut melalui kolaborasi berbagai pihak. Dengan demikian, upaya menjaga ekosistem pesisir dapat memberikan manfaat berkelanjutan sekaligus mewariskan lingkungan yang lestari bagi generasi mendatang. (*)








