Gubernur Mirza Paparkan Strategi Penguatan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Berbasis Desa

Tauriq Attala Gibran

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memaparkan strategi Pemerintah Provinsi Lampung dalam memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus membangun ketahanan pangan berbasis desa kepada peserta didik Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026.

Lampung (Netizenku.com): Hal tersebut disampaikan Gubernur Mirza dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama peserta didik Sespimti Polri dengan tema “Kebijakan Daerah dalam Rangka Penguatan Ekonomi Masyarakat dan Sumber Ketahanan Pangan di Provinsi Lampung” di Ruang Rapat Utama, Rabu (7/10/2026).

Dalam paparannya, Gubernur Mirza mengatakan sektor pertanian menjadi salah satu kekuatan utama perekonomian Lampung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dengan luas daratan sekitar 3,3 juta hektare, sekitar 1,7 juta hektare dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan, sedangkan sekitar 1 juta hektare merupakan kawasan hutan.

Menurutnya, sekitar 1,7 juta masyarakat Lampung bekerja sebagai petani dan pekebun. Kondisi tersebut membuat sektor pertanian sangat menentukan pergerakan ekonomi daerah.

“Kalau 60 persennya penduduk ini adalah petani, maka yang paling menyebabkan naik-turunnya perekonomian suatu daerah kami ini adalah pertanian sebenarnya,” ujarnya.

Lampung memiliki sejumlah komoditas unggulan pangan, di antaranya padi, jagung, ubi kayu, nanas, dan pisang. Produksi padi Lampung mencapai sekitar 3,2 juta ton dan jagung sekitar 1,7 juta ton. Sementara itu, ubi kayu menempatkan Lampung sebagai salah satu daerah penghasil terbesar di Indonesia.

Namun, menurut Mirza, besarnya produksi pangan belum otomatis menjamin kesejahteraan petani. Sebagian besar hasil pertanian masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai tambah dan keuntungan lebih banyak dinikmati pada rantai pasok setelah petani.

“Pangan yang di Provinsi Lampung ini selama ini belum bisa memakmurkan masyarakat Lampung. Petani kita selama ini menjual bahan mentah. Yang kedua, daya tawar petani ini lemah,” jelasnya.

Baca Juga  Gubernur Mirza, Kebersamaan Jadi Kekuatan Pembangunan Lampung Barat

Karena itu, Pemprov Lampung mengembangkan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperkuat hilirisasi dan ekosistem ekonomi di tingkat desa.

Arah kebijakan tersebut diwujudkan melalui program Desaku Maju yang menempatkan desa sebagai pusat produksi sekaligus pengolahan pangan.

“Ketahanan pangan kita mulai dari desa, bukan dari nation saja. Maka kami buat program namanya Desaku Maju,” katanya.

Melalui program tersebut, Pemprov Lampung mengembangkan penyediaan Pupuk Hayati Cair (PHC) di desa. Fasilitas ini memanfaatkan limbah sebagai bahan baku dan ditujukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menekan biaya produksi petani.

Pada 2025, program PHC telah dilaksanakan di 500 desa dan pada 2026 diperluas hingga 2.000 desa. Setiap fasilitas ditargetkan mampu mendukung kebutuhan sekitar 400 hektare lahan pertanian.

Selain pupuk, Pemprov Lampung mengembangkan penyediaan mesin bed dryer atau pengering hasil pertanian di desa. Kebijakan ini dilakukan untuk mengurangi biaya logistik dan meningkatkan nilai jual komoditas yang selama ini dijual dalam kondisi basah.

“Kita selalu menjual bahan mentahnya basah. Padi dijual basah, jagung dijual basah, singkong dijual basah. Maka kami buat program di setiap desa, di 400 desa mesin bed dryer. Keluar dari desa itu sudah kering, harganya naik, lebih efisien,” ujarnya.

Penguatan ekonomi desa juga dilakukan melalui pelatihan vokasi bagi pemuda usia produktif, penguatan BUMDes dan koperasi, serta pengembangan mesin industri sederhana untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah.

Mirza mencontohkan komoditas padi yang tidak lagi hanya dijual sebagai gabah, tetapi diolah menjadi beras di wilayah produksi. Demikian pula jagung yang diarahkan untuk dapat diolah menjadi pakan ternak di desa sehingga tercipta ekosistem peternakan dan perikanan yang lebih efisien.

Baca Juga  Abu Vulkanik Anak Krakatau Berpotensi Meluas, Komisi II DPRD Lampung Minta Mitigasi Diperkuat

“Intinya kami mempersiapkan desa kami bukan hanya memproduksi pangan, tapi juga memproduksi barang jadi,” tegasnya.

Upaya tersebut juga diintegrasikan dengan program pemerintah pusat, termasuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Makan Bergizi Gratis (MBG), Bulog, gapoktan, dan berbagai kelembagaan ekonomi masyarakat.

Mirza mencontohkan pemanfaatan KDMP untuk memotong mata rantai perdagangan gabah. Gabah yang sebelumnya dikirim keluar Lampung untuk diolah kemudian dibeli kembali dalam bentuk beras kini diarahkan untuk diserap koperasi dan dikirim ke penggilingan terdekat.

“Kalau KDMP ini bisa bekerja dengan masif di Provinsi Lampung, maka kami tidak mengirim gabah lagi ke luar Lampung, kami mengirim beras,” ujarnya.

Menurut Mirza, pola tersebut tidak hanya memberikan efisiensi harga, tetapi juga menjaga agar nilai tambah komoditas tetap berada di Lampung sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan petani.

Ia menyampaikan pertumbuhan ekonomi Lampung kini berada di atas rata-rata nasional dan menjadi yang tertinggi kedua di Sumatera.

Mirza juga memaparkan sejumlah indikator peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat, di antaranya penjualan kendaraan yang meningkat, khususnya kendaraan yang banyak digunakan di wilayah pertanian, peningkatan pengiriman barang ke kabupaten dan desa, kenaikan penjualan semen ritel, serta meningkatnya pembelian alat dan mesin pertanian.

Gubernur menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan memastikan ketersediaan produksi. Masyarakat, khususnya petani sebagai produsen pangan, juga harus memiliki akses terhadap pangan bergizi dengan harga yang terjangkau.

Ia menilai penting membangun ekosistem pangan dari hulu hingga hilir di wilayah desa. Petani padi harus dapat memperoleh beras dengan harga yang baik, petani jagung memperoleh pakan dengan harga terjangkau, dan peternak dapat memperoleh pakan murah sehingga harga protein hewani juga lebih terjangkau masyarakat.

Baca Juga  Koperasi IJP Lampung Luncurkan RPK, Perkuat Layanan Kebutuhan Pokok Anggota

“Ketika itu dijalankan, itulah namanya bagi saya itu adalah ketahanan pangan,” katanya.

Untuk menjalankan kebijakan tersebut, Pemprov Lampung mengedepankan kolaborasi dengan berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, kejaksaan, kementerian/lembaga, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.

Kolaborasi tersebut antara lain dilakukan dalam pengawalan produksi dan harga komoditas pangan. Polri membantu penguatan sektor jagung, TNI mendukung sektor padi dan hilirisasi, sementara berbagai UMKM dilibatkan dalam pengembangan pengolahan hasil pertanian.

“Ini kolaborasi saya dengan Forkopimda semuanya. Di sini kami sepakat dalam Forkopimda kita majukan pangan, konsepnya seperti ini, kita jalan sama-sama,” ungkapnya.

Sementara itu, Pimpinan Rombongan Sespimti Polri Brigjen Pol. Mardiaz Kusin Dwihananto menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Lampung terhadap pelaksanaan Pendidikan Kerja Dalam Negeri (PKDN) Sespimti Polri Dikreg ke-36 Tahun 2026.

Menurutnya, kegiatan PKDN memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengintegrasikan teori dan konsep yang diperoleh selama pendidikan dengan kondisi nyata di lapangan, termasuk memahami karakteristik wilayah dan merumuskan solusi berdasarkan fakta serta data.

Ia menyebut tema PKDN tahun ini relevan dengan tantangan pembangunan nasional, khususnya terkait kedaulatan pangan, energi, dan pertumbuhan ekonomi yang produktif serta inklusif.

“Seorang pemimpin tingkat tinggi dituntut tidak hanya mampu mengelola organisasi internal, tetapi juga harus memiliki kemampuan membaca perubahan dengan strategis, membangun kolaborasi lintas sektoral, serta mengambil keputusan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya.  (*)

Berita Terkait

Lampung Catat Inflasi September 0,14 Persen, Terendah di Sumatera
Deni Ribowo Apresiasi Penghargaan KPK untuk Pendidikan Antikorupsi Lampung
Gubernur Mirza Kukuhkan Kepala BPKP dan Pengurus AAIPI Lampung 2026–2029
Gubernur Lampung Instruksikan RSUDAM Berbenah
Marindo Lantik Gadriyanto Abung sebagai Kasatpol PP dan Lukman Pura Direktur RSUDAM
Pemprov Lampung Dorong Penguatan Kepemimpinan Perempuan melalui Kaderisasi Bandarlampung —
Lampung Raih Penghargaan BSSN, 100 Persen Kabupaten/Kota Miliki TTIS Teregistrasi
Pemprov Lampung Dorong ITERA Jadi Pusat Inovasi dan Hilirisasi Komoditas Unggulan

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:37 WIB

Gubernur Mirza Paparkan Strategi Penguatan Ekonomi dan Ketahanan Pangan Berbasis Desa

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:08 WIB

Lampung Catat Inflasi September 0,14 Persen, Terendah di Sumatera

Rabu, 7 Oktober 2026 - 18:05 WIB

Deni Ribowo Apresiasi Penghargaan KPK untuk Pendidikan Antikorupsi Lampung

Rabu, 7 Oktober 2026 - 15:07 WIB

Gubernur Mirza Kukuhkan Kepala BPKP dan Pengurus AAIPI Lampung 2026–2029

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:21 WIB

Marindo Lantik Gadriyanto Abung sebagai Kasatpol PP dan Lukman Pura Direktur RSUDAM

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:18 WIB

Pemprov Lampung Dorong Penguatan Kepemimpinan Perempuan melalui Kaderisasi Bandarlampung —

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:14 WIB

Lampung Raih Penghargaan BSSN, 100 Persen Kabupaten/Kota Miliki TTIS Teregistrasi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:11 WIB

Pemprov Lampung Dorong ITERA Jadi Pusat Inovasi dan Hilirisasi Komoditas Unggulan

Berita Terbaru