Pemerintah Provinsi Lampung mendorong Universitas Lampung (Unila) mengambil peran lebih besar sebagai motor transformasi ekonomi daerah melalui penguatan riset, inovasi, hilirisasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Lampung (Netizenku.com): Hal tersebut disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam Rapat Luar Biasa Senat Universitas Lampung dalam rangka Dies Natalis ke-61 Unila di Gedung Serbaguna (GSG) Universitas Lampung, Rabu (23/9/2026).
Mengusung tema “Unila Be Strong: 61 Tahun Berkarya, Bersinergi Menjadi Pusat Inovasi Berdampak”, Dies Natalis ke-61 menjadi momentum memperkuat sinergi perguruan tinggi dan pemerintah dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di Lampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gubernur Mirza mengatakan perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia sekaligus menghasilkan pengetahuan dan inovasi yang dapat menjawab persoalan masyarakat.
“Bagi pemerintah, perguruan tinggi merupakan tempat kita mengembangkan ilmu, tempat anak-anak muda kita, sumber daya manusia masa depan Indonesia memperoleh bekal sebagai calon pemimpin, calon pengusaha, dan tentunya calon pembawa perubahan bagi Provinsi Lampung,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Mirza juga menyinggung peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Lampung yang dinilainya menjadi salah satu indikator dampak kebijakan pemerintah terhadap masyarakat.
Ia menyebut, dalam 10 tahun terakhir APK Lampung masih berada di peringkat 35 secara nasional. Pada 2024, dari sekitar 130.000 lulusan SMA, hanya sekitar 30.000 yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Menurutnya, kondisi tersebut mulai berubah seiring membaiknya kondisi ekonomi masyarakat.
Mirza menjelaskan, intervensi pemerintah terhadap sektor-sektor yang menjadi sumber penghidupan masyarakat, khususnya melalui kebijakan yang meningkatkan harga komoditas pertanian, tidak hanya berdampak terhadap daya beli, tetapi juga membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi.
“Begitu harga komoditas naik di 2025, APK-nya ikut naik. Dan alhamdulillah hari ini tahun ini, Bapak, Ibu sekalian, APK kita pun ikut naik,” katanya.
Ia menilai keterkaitan tersebut penting karena sebagian besar masyarakat Lampung menggantungkan penghasilan pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan.
Ketika pendapatan keluarga petani meningkat, lanjutnya, kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pendidikan anak juga semakin terbuka.
“Kalau dalam data demografi kita 50 persen adalah petani, maka 50 persen mahasiswa yang di sini adalah anak petani,” ujarnya.
Karena itu, keberadaan Unila dinilai semakin strategis. Perguruan tinggi tidak hanya menerima manfaat dari meningkatnya akses pendidikan, tetapi juga memiliki tanggung jawab memastikan semakin banyak anak Lampung memperoleh pendidikan berkualitas dan mampu menjadi bagian dari transformasi ekonomi daerah.
Lebih lanjut, Mirza mengatakan kekuatan ekonomi Lampung selama ini bertumpu pada sektor pangan dan komoditas. Lampung memiliki berbagai komoditas unggulan, seperti padi, jagung, singkong, nanas, pisang, tebu, kopi, lada, kakao, kelapa, hingga kelapa sawit.
“Provinsi Lampung tidak kaya dengan tambang, tidak kaya dengan mineral, tetapi kekayaan kita adalah kekayaan pangan,” katanya.
Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan komoditas tersebut tidak terus dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi dapat diolah sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian daerah.
Dari sekitar Rp165 triliun nilai sektor primer yang dipaparkan Mirza, sekitar Rp125 triliun berasal dari sektor pertanian hingga perikanan. Namun, menurutnya, baru sekitar 30–40 persen yang telah melalui proses hilirisasi.
“Masih ada 65 persen lagi yang selama ini masih dijual mentah,” ujarnya.
Karena itu, Mirza mendorong Unila mengambil peran lebih besar dalam proses hilirisasi tersebut.
“Unila ke depan setelah 61 tahun ini harus bisa menjadi kampus menjadi motor transformasi,” tegasnya.
Salah satu bentuk kerja sama yang didorong Pemprov Lampung bersama Unila adalah pengembangan National Cassava Center.
Mirza mengatakan Lampung menyumbang sekitar 70 persen produksi tapioka Indonesia. Namun, produktivitas singkong di daerah tersebut masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.
Sekitar 500.000 penduduk disebut menggantungkan aktivitas pertaniannya pada komoditas singkong. Karena itu, pengembangan bibit unggul dan peningkatan produktivitas dinilai dapat memberikan dampak ekonomi yang luas.
“Target saya, target pemerintah dengan Unila, kita tahun depan sudah menghasilkan bibit unggul. 2027 kita punya target produktivitas singkong kita naik dua kali lipat dan produksi tapioka kita bisa nomor satu di dunia,” katanya.
Dengan semakin terbukanya akses masyarakat Lampung terhadap pendidikan tinggi, Mirza berharap Unila mampu menjadi bagian penting dalam memastikan peningkatan tersebut menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Sementara itu, Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., I.P.M., ASEAN Eng., mengatakan Dies Natalis ke-61 menjadi momentum memperkuat transformasi Unila dari perguruan tinggi yang kuat secara kelembagaan menjadi institusi yang semakin berdampak bagi masyarakat.
Tema BE STRONG menjadi benang merah Dies Natalis ke-61, yang mencakup Business, Environment, Service, Teaching, Research, Organizational Partnership, Network, serta Infrastructure and Government Good Governance.
Lusmeilia menegaskan keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup diukur dari jumlah program maupun capaian kelembagaan, tetapi juga dari perubahan yang dihasilkan.
“Dari kuat menuju berdampak, dari capaian menuju kontribusi, dari aktivitas menuju outcome, dan dari keberhasilan institusi menuju kebermanfaatan yang lebih luas,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan sejumlah capaian Unila, antara lain peningkatan efisiensi pendidikan, penguatan layanan karier dan kewirausahaan mahasiswa, peningkatan aktivitas mahasiswa di luar program studi, prestasi mahasiswa, riset, publikasi, kemitraan, hingga hilirisasi hasil penelitian.
Pada 2025, Unila mendanai 835 judul penelitian dengan anggaran sekitar Rp13,5 miliar. Selain itu, terdapat 19 kontrak kerja sama riset berbayar dengan nilai sekitar Rp2,75 miliar serta 10 inovasi yang telah digunakan oleh UMKM.
Menurut Lusmeilia, berbagai capaian tersebut harus terus diarahkan agar menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat.
“Riset harus menemukan jalannya menuju teknologi, model, kebijakan, atau praktik yang digunakan,” pungkasnya. (*)








