Membedah Nilai Tukar Petani Lampung Juni-Agustus 2025: Faktanya Menyedihkan, Tapi…..

Ilwadi Perkasa

Rabu, 3 September 2025 - 01:33 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perbandingan NTP Lampung per subsektor (Juni–Agustus 2025). Terlihat jelas perkebunan jauh di atas subsektor lain, sementara peternakan dan perikanan budidaya justru merugi karena terus di bawah batas impas NTP=100.

Perbandingan NTP Lampung per subsektor (Juni–Agustus 2025). Terlihat jelas perkebunan jauh di atas subsektor lain, sementara peternakan dan perikanan budidaya justru merugi karena terus di bawah batas impas NTP=100.

Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung naik ke 125,41 pada Agustus 2025. Namun, kenaikan ini bukan kabar baik bagi semua petani. Faktanya, petani kecil di subsektor pangan, peternakan, dan perikanan budidaya justru semakin terpuruk, sementara petani perkebunan menikmati keuntungan lebih besar.

***

Kenaikan NTP kerap digembar-gemborkan sebagai sinyal perbaikan, tetapi jika ditelisik dari tiga periode terakhir (Juni–Agustus), jelas terlihat ketimpangan. Subsektor perkebunan rakyat menjadi penikmat  utama dengan NTP selalu di atas 150,  bahkan sempat mencapai 167,86 pada Juni. Mereka diuntungkan oleh harga yang lebih stabil, akses pasar luas, dan kemampuan bertahan menghadapi fluktuasi biaya produksi.

Dari grafik batang di atas menunjukkan perbandingan NTP Lampung per subsektor (Juni–Agustus 2025). Terlihat jelas perkebunan jauh di atas subsektor lain, sementara peternakan dan perikanan budidaya justru merugi karena terus di bawah batas impas NTP=100

Baca Juga  Gubernur Mirza Dorong BAZNAS Perkuat Peran Zakat untuk Entaskan Kemiskinan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

NTP peternakan terus merosot 99,73 (Juni), 98,88 (Juli), dan 97,61 (Agustus). Perikanan budidaya lebih tragis lagi. Pada Juni 96,97, dan Juli 96,17, hingga tersungkur ke 95,02 pada Agustus. Angka-angka ini menunjukkan usaha mereka merugi. Hasil kerja sehari penuh bahkan tidak mampu menutup ongkos produksi.

Tanaman pangan, yang seharusnya menopang ketahanan pangan, hanya bertahan di kisaran 105. Margin tipis ini membuat petani rawan bangkrut jika harga pupuk atau benih naik sedikit. Potret ini menegaskan ketimpangan nyata bahwa petani kecil hanya bekerja untuk bertahan hidup, sementara perkebunan menikmati surplus.

Lebih ironis lagi, biaya hidup petani justru terus naik. Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) berturut-turut meningkat 0,002 persen (Juni), 0,54 persen (Juli), dan 0,12 persen (Agustus). Artinya, daya beli petani kecil makin menurun meski NTP rata-rata terlihat naik.

Baca Juga  Budiman As Minta 8.000 Aset Pemprov Lampung Diaudit Total

Lebih Tinggi dari Nasional

Analisis di atas adalah dalam konteks Lampung. Menyedihkan memang, namun lumayan menggembirakan jika dibandingkan dengan data nasional  di mana pada Triwulan II–III 2025 juga  menunjukkan tren kenaikan.

Secara nasional, NTP naik dari 121,72 (Juni),  122,64 (Juli) dan 123,57 (Agustus). Namun deretan NTP nasional selama periode itu tidak lebih baik atau secara agregat masih di bawah NTP Lampung.   Keadaan atas perbandingan ini  menjelaskan bahwa  petani di Lampung secara agregat memperoleh pendapatan lebih baik daripada rata-rata nasional.

Kondisi ini menuntut langkah nyata pemerintah  memberikan subsidi input produksi seperti pakan, benih, dan pupuk harus diberikan tepat sasaran agar biaya produksi petani kecil tidak terus membengkak. Selain itu, rantai distribusi perlu diperpendek sehingga petani mendapat harga lebih layak dan tidak terjebak permainan perantara. Lebih jauh, pemerintah mesti menegakkan kebijakan harga yang memihak pada petani kecil, terutama untuk komoditas strategis, sekaligus mendorong produktivitas, mutu, dan hilirisasi produk agar subsektor tertinggal bisa berkembang.

Baca Juga  98 Kepala Sekolah di Lampung Resmi Dilantik, Sejumlah Jabatan Dirotasi

Kabar baiknya, langklah nyata tersebut sudah mulai dilakukan oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani melalui  Program Pupuk Organik Cair (POC)  berharga murah dan ramah lingkungan. POC ini ditargetkan  menjangkau 2.000 desa di Provinsi Lampung. Kelak, setiap desa diharapkan mampu mengelola 400 hektare lahan dengan pupuk organik ini. Diproyeksikan, dengan POC potensi produktivitas meningkat signifikan, sehingga panen padi bisa mencapai 7-8 ton per hektare.***

 

 

Berita Terkait

Wagub Jihan Siap Dukung Pengembangan Program Sastra di Lamban Sastra Isbedy
Disdik Lampung Perkuat Pengawasan Siswa Cegah Keterlibatan Narkoba
Pemprov Lampung Permudah Peminjaman Aset melalui Aplikasi SIMASTER
Koperasi IJP Lampung Luncurkan RPK, Perkuat Layanan Kebutuhan Pokok Anggota
NTB Studi Tiru Program Desaku Maju di Lampung
Gubernur Mirza, Kebersamaan Jadi Kekuatan Pembangunan Lampung Barat
RSUD Abdul Moeloek Hadirkan Teknologi DSA untuk Perkuat Layanan Stroke
Kemenag Lampung Tegaskan Tanah 1,72 Hektare di Natar Berstatus Aset Negara

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 19:39 WIB

105 Pelaku UMKM Pringsewu Ikuti Pelatihan Kemitraan Bersama Indomaret

Senin, 28 September 2026 - 19:56 WIB

Jambret Tas Berisi Rp1,6 Juta di Gadingrejo Terjatuh Saat Kabur

Kamis, 24 September 2026 - 18:58 WIB

Ekonomi Pringsewu Tumbuh 5,44 Persen, Lampaui Provinsi Lampung dan Nasional

Selasa, 22 September 2026 - 19:14 WIB

Sopir di Pringsewu Gelapkan Uang Setoran Penjualan Ayam Rp50,4 Juta

Senin, 21 September 2026 - 16:57 WIB

Motor Teman Wanita Dibawa Kabur, Pemuda di Pringsewu Ditangkap Polisi

Jumat, 18 September 2026 - 19:00 WIB

Bupati Pringsewu Salurkan Bantuan Pangan untuk 384 Warga Fajarmulia

Kamis, 17 September 2026 - 19:15 WIB

Bupati Riyanto Dorong Mocaf hingga Kambing Domba Jadi Penggerak UMKM Pringsewu

Kamis, 17 September 2026 - 18:58 WIB

Pemkab Pringsewu Gelar Upacara Peringatan Harhubnas 2026

Berita Terbaru

Lampung Selatan

Got Talent 2026 Jadi Panggung Talenta Muda Lampung Selatan

Rabu, 30 Sep 2026 - 20:05 WIB